Minggu, 23 November 2008

QUANTUM TEACHING SISTEM TANDUR DAN PENERAPANNYA DALAM PENGAJARAN BAHASA INGGRIS

Abstract:
Quantum Teaching is one of educational methods that has been implemented lately. It gives many benefits to teacher as one of the educational subject. On the other hands, our Minestry of National Education also implemented a new curriculum called Literacy-Based-Curriculum. This curriculum tries to solve our educational problems. What will happen if these two methods of teaching are combined to be the ultimate solution to end our educational problems? The combination clearly provides many benefits for us

Key Words: quantum teaching, TANDUR, implementation, literacy-based-curricuilum

Topik ini terinspirasi oleh sebuah pengalaman mengajar penulis di salah satu SMA swasta favorit di Surabaya. Setelah sekian lama berinteraksi dengan sistem sekolah dan kurikulum pengajaran bahasa Inggris di sekolah tersebut, penulis menjumpai sebuah kenyataan menarik ketika penulis mengajar di dalam kelas, bahwa KB (Kurikulum Berbasis Kompetensi) apabila dipadukan dengan Pengajaran Quantum sistem TANDUR, dapat membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan mampu memotivasi semangat belajar siswa.

Karena itu, topik ini bertujuan untuk mendiskusikan: a) Sejauh mana Pengajaran Quantum sistem TANDUR bermanfaat dalam penerapan Kurukulum Berbasis Kompetensi Pelajaran Bahasa Inggris? b) Contoh-contoh pengajaran Quantum sistem tandur di dalam kelas yang mampu menarik minat siswa untuk lebih giat belajar.

Dalam dua fokus di atas itulah tulisan ini mencoba memberikan ulasan, dengan terlebih dahulu meninjau beberapa dasar teoritis. Untuk mengulas topik tersebut, penulis membagi ulasan sebagai berikut: Quantum Teaching, Metode TANDUR, Kurikulum Berbasis Kompetensi Bahasa Inggris, Pengajaran Quantum sistem TANDUR dan Penerapannya dalam KBK, Temuan-temuan menarik, dan Penutup.

Quantum Teaching
Quantum Teaching muncul dari sebuah upaya Dr Georgi Lozanov, pendidik asal Bulgaria, yang bereksperimen dengan suggestology. Prinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar. Pada perkembangan selanjutnya, Bobbi de Porter (penulis buku best seller Quantum Learning dan Quantum Teaching), murid Lozanov, dan Mike Hernacki, mantan guru dan seorang penulis, mengembangkan konsep Lozanov menjadi Quantum Learning. Metode belajar ini diadopsi dari beberapa teori. Antara lain sugesti, teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik) dan pendidikan holistik. (Ridho, 2005)

Quantum Teaching dimulai di SuperCamp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan Learning Forum, yaitu sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan akademis dan ketrampilan pribadi (DePorter,1992)

Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitas SuperCamp, berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lazanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro-Linguistics Programming (Grinder dan Bandler), Experimental Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), dan Elements of Effective Instruction (Hunter). Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan, dan kompatibel dengan otak, yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi. (DePorter dkk, 2001)

Quantum Teaching memberikan kritik terhadap cara mengajar yang selama ini dilakukan secara ‘turun temurun’. Persamaan Quantum Teaching ini diibaratkan mengikuti konsep Fisika Quantum yaitu:
E = mc2
E = energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar, dan semangat)
m= massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, dan fisik)
c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas) (Ridho, 2005)

Metode TANDUR
Metode TANDUR adalah salah satu metode yang dapat diterapkan dalam Quantum Teching. Aplikasi dari TANDUR sangat jelas manfaatnya ketika diterapkan dalam kelas yang memiliki siswa dengan tingkat antusiasme belajar yang rendah. TANDUR ditujukan untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar sehingga proses penyampaian materi dapat berjalan dengan baik. TANDUR merupakan singkatan dari enam fase pengajaran yang meliputi Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan

T (Tumbuhkan). Tumbuhkan dalam hal ini mengacu pada fase menumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BAgiKu” (AMBAK), dan manfaatnya dalam kehidupan mereka (DePorter dkk, 2001) dengan proses yang semenarik mungkin.

Tumbuhkan di sini berperan sangat penting karena pada fase inilah siswa diajak pergi dari dunianya menuju dunia kita sebagai pengajar, dan kita antarkan dunia kita ke dalam dunia mereka (DePorter dkk, 2001), tanpa ada rasa keterpaksaan. Kita sebagai pengajar pada fase ini dituntut untuk bisa menyiapkan sebuah kejadian menarik yang dapat mengundang minat siswa untuk membuka mata mereka dan menyerahkan segenap perhatian mereka kepada kita. Seperti contoh yang pernah penulis lakukan di kelas ketika penulis memulai pelajaran.

Pada saat itu penulis bermaksud menerangkan tentang materi Past Tense. Penulis datang ke dalam kelas dengan membawa dua kardus besar coklat Wafer TOP dan meletakkannya di depan kelas. Pertama kali masuk kelas, situasi kelas masih ramai. Tapi ketika penulis mulai membuka kardus coklat, siswa mulai memberikan respon. Satu orang bertanya tentang isi kardus tersebut. Beberapa siswa yang lain meminta ijin agar diperbolehkan memiliki isinya. Tidak masalah mereka memberikan respon yang berbeda, asalkan respon mereka tertuju pada kita, itu sudah lebih dari dari cukup. Perhatian inilah yang menjadi target dari fase Tumbuhkan. Ketika perhatian sudah berhasil direbut, maka itulah letak kemenangan kita. Karena ketika hal ini terjadi, penyampaian materi akan sangat mudah dilakukan.

A (Alami) dimaksudkan untuk memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa. Pengalaman belajar ini haruslah dapat mencakup segenap gaya belajar siswa, baik itu yang memiliki gaya belajar Auditory, Visual ataupun Kinestetik. Ketika siswa diberi pengalaman belajar secara langsung, mereka akan terus dapat mengingatnya karena sistem belajar seperti inilah yang dapat masuk ke dalam sistem Long Term Memori mereka. Ketika penulis menerapkan fase ini ke dalam kelas, respon siswa sangat bagus.

Setelah fase Tumbuhkan berjalan dengan baik, langkah selanjutnya adalah memulai fase Alami. Penulis melakukannya dengan menceritakan sebuah kisah menarik yang pernah penulis alami. Saat itu bahasan materi adalah Simple Past, oleh karenanya penggunaan Past Tense (Verb II) sangatlah dominan. Selama penulis bercerita, verb past yang penulis gunakan, penulis tuliskan di papan tulis. Selesai bercerita, siswa diminta memberi komentar terhadap cerita tadi. Tapi yang jelas, bukan pada komentar ini kita menilai respon siswa, melainkan sejauh mana mereka paham dan tetap menaruh perhatian pada kita. Setelah respon di berikan, kita beranjak pada catatan kita di papan tulis. Catatan itulah yang akan mengarahkan jalannya pengajaran selanjutnya.

N (Namai) disini dimaksudkan untuk menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus, dan strategi sebagai penanda (DePorter dkk, 2001). Kadang, ketika siswa hanya diberikan penjelasan materi secara intengible tanpa dijelaskan dan diterangkan materi apa yang mereka dapat, mereka menjadi bingung dan merasa tidak belajar. Bagian inilah yang digunakan untuk menghindari kejadian tersebut. Catatan-catatan tentang ragam verb dua di papan tulis dapat digunakan untuk melaksanakan fase Namai. Beri mereka pengertian tentang verb-verb tadi. Beri mereka pengertian tentang penggunaannya, beri mereka contoh yang banyak tentang aplikasinya, dan beri mereka rumus agar mereka jelas bahwa saat itu mereka belajar tentang materi Past Tense

D (Demonstrasikan) adalah menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu (DePorter dkk, 2001). Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan mereka kesempatan untuk mempraktekkan apa yang telah mereka terima.

Fase ini memiliki peranan yang dominan dan penting dalam pembelajaran. Semakin banyak kita memberikan kesempatan melakukan (demonstrasi) kepada siswa, semakin paham pula mereka terhadap materi yang kita berikan. Membuat kalimat dengan menggunakan past tense, atau membuat recount (cerita tentang pengalaman pribadi) tentang diri mereka dapat dijadikan cara dalam melaksanakan fase ini.

U (Ulangi) dilakukan dengan dengan cara me-review secara umum terhadap proses belajar di kelas. Tidak ada salahnya mengulang lagi secara umum terhadap apa yang telah kita terangkan karena, bisa jadi, ada beberapa hal dari materi kita yang tidak atau masih belum dipahami oleh siswa. Setelah semua siswa mendapatkan giliran untuk mempraktekkan materi, tiba gilirannya bagi kita untuk menutup pelajaran. Sebelum menutup pelajaran, yakinkanlah diri kita bahwa semua siswa bisa dan paham terhadap materi tersebut, yaitu dengan melakukan review materi. Kita bisa melakukannya dengan memunculkan pertanyaan seperti ini: “Ok, students, what have we got so far? atau “What do you get from this lesson? atau “Still remember what have we studied just now?”

R (Rayakan) adalah pengakuan terhadap hasil kerja siswa di kelas dalam hal perolehan ketrampilan dan ilmu pengetahuan. Rayakan dapat dilakukan dalam bentuk pujian, memberikan hadiah atau tepuk tangan. Pujian sangat penting keberadaannya dalam proses belajar mengajar. Dr. Sylvia Rimm menyebutkan bahwa pujian merupakan komunikator nilai-nilai orang dewasa efektif dan menjadi alat yang amat penting bagi orang tua (guru) untuk membimbing anak-anak (siswa). Kesenangan orang tua yang dinyatakan merupakan motivasi awal yang paling kuat (1998:6).

Tapi meskipun demikian, terlalu banyak pujian juga tidak baik bagi mereka. Sebab ketika hal itu terjadi, mereka akan belajar untuk selalu tergantung dan mengharapkan perundingan untuk segala kegiatan mereka (Rimm, 1998). Pujian dapat pula dilakukan kepada siswa meskipun mereka melakukan kegagalan. Pujian ini dapat diartikan sebagai sebuah penguatan kepada siswa untuk mempertahankan mental mereka agar tidak jatuh (down). Hal yang harus kita ingat sebagai seorang pengajar dan pendidik adalah bahwa kegagalan itu bukanlah suatu aib atau hal yang memalukan.

Sejarah menunjukkan bahwa bahkan orang yang paling sukses dan paling dikagumipun ternyata pernah melakukan kesalahan fatal yang kelihatannya tidak bisa diperbaiki. Semua orang sadar bahwa berbuat salah sesungguhnya sangatlah manusiawi (Stein, 2002).

Kurikulum Berbasis Kompetensi Pengajaran Bahasa Inggris
Kurikulum pelajaran bahasa Inggris, disebut Kurikulum Berbasis Literasi (disingkat KBL), menggantikan kurikulum sebelumnya yang dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). KBL diharapkan mampu mendongkrak tingkat literasi anak bangsa.

Literasi adalah budaya membaca dan menulis, yang berbanding terbalik dengan budaya orasi yakni budaya mendengar dan berbicara. Orang berpendidikan disebut literat karena mampu melakukan keduanya. Jadi, seorang yang banyak membaca tapi tidak menulis dapat dikatakan setengah berpendidikan.

Kompetensi utama yang muncul dalam kurikulum ini adalah kompetensi berwacana (discourse competence), yakni kemampuan berkomunikasi lisan (spoken) maupun tulis (written) dalam berbagai peristiwa interaksi/text. Untuk memuluskan maksud tersebut diperlukan kompetensi pendukung, yaitu kompetensi tindak bahasa, kompetensi sosio-kutural, kompetensi linguistic, kompetensi strategi, dan kompetensi piranti pembentuk wacana. (Alwasilah, 2005). Dalam pelaksanaannya, rangkaian dua sistem komunikasi tersebut kemudian disinergiskan ke dalam dua tahapan siklus yaitu dari siklus lisan (oral) menuju siklus tulisan (written)

Dalam Kurikulum ini, siswa dikenalkan dan dijelaskan secara detail tentang berbagai macam genre text, seperti recount, spoof, anecdote, report, narrative, procedure, news item, descriptive, argumentative (kita menyebut teks-teks tadi sebagai teks besar), texts kecil seperti letter, post cards, announcement, advertisement dan text bebas seperti wacana transaksional personal/interpersonal ringan.

Proses pembelajaran di kelas
Seperti disebut di atas, KBL merupakan rangkaian dari lisan ke tulisan. Dalam KBL digunakan istilah siklus lisan (di dalamnya terdapat dua skill yaitu listening dan speaking) dan siklus tulisan (di dalamnya terdapat dua skill yaitu reading dan writing). Walaupun bahasa Inggrisnya umumnya berorientasi pada komunikasi lisan, siswa SMA juga diperkenalkan kepada komunikasi tulis secara bertahap, khususnya bahasa tulis yang di dasarkan pada teks.

Dalam pembelajaran di kelas, ada empat tahap (yang selanjutnya akan kita sebut dengan steps) yang harus ditempuh. Empat tahap itu adalah: Building Knowledge of the Field, Modelling of the Text, Joint Construction dan Individual/Independent Construction. Idealnya, empat tahap tersebut dilaksanakan secara berkesinambungan dalam tiap-tiap siklus. Tetapi kadang untuk menghemat waktu, tahap Building Knowledge of the Field diabaikan dalam siklus tulis dengan pertimbangan tahap ini telah jelas diterangkan sebelumnya secara jelas dalam siklus lisan

Pertama, Building Knowledge of the Field (BKF). Tahap ini dimaksudkan untuk menjajaki dan mengenalkan topik yang akan dibahas. Bila teks yang akan diajarkan adalah procedure, maka guru dan siswa terlibat dalam percakapan yang berhubungan dengan teks tersebut. Pada tahap ini siswa dilatih keterampilan menyimak dan berbicara. Siswa diajak untuk mencari segala peristiwa di kehidupan sehari hari yang berhubungan dengan prosedur, tahapan, dan skema untuk melakukan sesuatu. Setelah peristiwa tersebut teridentifikasi, guru memberikan penjelasan kapan teks procedure ini muncul.

Tahap kedua adalah Modelling of the Text (MT). Tahap ini adalah tahap pemajangan (exposure) terhadap teks. Ketika kelas berada dalam siklus lisan (listening dan speaking), maka guru memberikan pemodelan kepada siswa. Misal, cara membuat roti bakar. Guru memperagakan secara visual, auditori dan kinestetik bagaimana caranya membuat roti tersebut dengan mempraktekkannya secara langsung.

Pertama, guru menunjukkan bahan-bahan dan menyebutkannya dalam bahasa Inggris, kemudian mempersiapkannya di depan dengan menerangkannya dalam bahasa Inggris. Setelah itu dilanjutkan dengan proses pembuatan yang kesemuanya disampaikan dalam bahasa Inggris. Setelah mendengar secara langsung dari guru, peran kerja kemudian beralih dari guru ke siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan dan melatih kemampuan speaking mereka.

Ada dua pilihan yang bisa diberikan guru kepada siswa. Pilihan pertama, siswa diminta mengulang secara keseluruhan prosedur yang telah dijelaskan, dan pilihan kedua, siswa diminta menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan prosedur yang telah diterangkan.
Ketika kelas menginjak pada tahapan siklus tulis, maka siswa dikenalkan dengan bahasa tulis teks tersebut melalui metode membaca (exposure information by reading). Siswa diberikan contoh-contoh procedure dan guru menjelaskan beberapa hal kepada mereka terutama generic structure dari teks tersebut. Generic structure text terbagi menjadi dua bagian besar, yang pertama adalah structure of the text, dan yang kedua adalah language feature. Struktur text procedure adalah list of materials (bahan-bahan/materi), sequence of events ( serangkaian kejadian) dan closing (penutup). Language feature dari procedure adalah imperative, adverbs, time sequences, dan conjunction. Ketika mereka paham terhadap generic structure dari teks, langkah selanjutnya adalah membiarkan mereka bereksplorasi dalam bentuk tulisan.

Joint Construction of Text (JCT). Tahap ini didesain untuk menciptakan kolaborasi antarsiswa. Dari kolaborasi itu diharapkan muncul teks sebagai hasil kerja sama yang manis dalam kelompok. Mereka diasumsikan mampu berbuat itu setelah melewati dua tahap sebelumnya di atas. Ketika mereka memasuki siklus oral, maka kerjasama yang mereka lakukan adalah mendiskusikan bagaimana prosedur membuat sesuatu secara lisan dalam kelompok. Kemudian pada siklus tulis, mereka melakukan kerja sama dalam kelompok dengan kegiatan yang berbeda, yaitu membuat prosedur terhadap suatu kegiatan. Perlu diingat di sini, bahwa bahasa tulis dan bahasa lisan dalam teks procedure memiliki beberapa perbedaan
Individual Construction of Text (ICT). Ini adalah tahap tertinggi dalam penguasaan bahasa, yakni kemampuan secara mandiri memproduksi teks, Contoh nya siswa diminta untuk menerangkan secara lisan bagaimana proses meng-install program ke dalam komputer (siklus lisan).

Selanjutnya pada tahap ini siswa juga diharapkan mampu memproduksi teks tersebut (bagaimana cara meng-install program ke komputer) ke dalam bentuk teks tulis. Pada tahap ini diharapkan terjadi text sharing dengan memperlihatkan teks itu dan membahasnya dalam kelas. Ini diniati sebagai bagian dari penanaman sikap positif, saling menghargai karya tulis sejawat. (Alwasilah, 2005).

Dalam pelaksanaan assessment/ penilaian, guru diberikan kebebasan penuh kapan assessment tersebut dilakukan. Asalkan dapat mencakup empat skill yaitu listening, speaking, reading dan writing, guru bebas berkreasi sesuai dengan kondisi kelas. Namun meskipun demikian, idealnya, assessment dilaksanakan sesuai dengan siklusnya. Assessment listening dan speaking dilaksanakan ketika siklus lisan berjalan. Reading serta writing dilaksanakan pada siklus tulis. Assessment listening biasanya diambil pada tahap BKF dan MT, dan Speaking dilaksanakan pada tahap JCT atau ICT. Demikian pula pada assessment reading dan writing Reading dilakukan pada BKF atau Modelling, dan Writing pada JCT dan ICT.

Pengajaran Quantum sistem TANDUR dan Penerapannya dalam KBK
Berbicara tentang KBL, maka kita berbicara tentang sebuah kurikulum dengan berbagai macam kegiatan pembelajaran di dalamnya. Termasuk di dalamnya dua siklus dan empat step yang telah diterangkan di atas. Seorang pengajar tidak mungkin dapat menerapkan semua hal di atas hanya dalam satu pertemuan. Butuh beberapa pertemuan untuk menyelesaikan secara keseluruhan dari siklus tulis ke lisan. Belum lagi ketika sebuah proses assessment individu yang panjang karena jumlah siswa yang banyak. Secara matematis kita dapat menghitung jumlah pertemuan minimum yang kita lakukan untuk menyelesaikan satu text dengan dua siklus. Kita asumsikan bahwa satu step dalam satu siklus membutuhkan satu pertemuan, maka untuk menyelesaikan satu siklus kita membutuhkan empat kali pertemuan. Untuk meyelesaikan satu text, dengan dua siklus maka kita membutuhkan delapan pertemuan.

Andaikata kita kreatif dan disiplin terhadap waktu, BKF dan MT dapat diselesaikan dalam satu pertemuan. JCT dapat kita tekan waktunya hingga hanya butuh setengah pertemuan, maka sisa waktu yang ada dapat kita lanjutkan menuju ICT. Apabila jumlah siswa yang kita miliki banyak, maka akan ada tambahan waktu khusus untuk mengassessment mereka semua. Total waktu yang kita gunakan adalah satu pertemuan untuk BKF dan MT, ditambah dua pertemuan lagi untuk JCT dan ICT. Total keseluruhan untuk dua siklus adalah enam pertemuan.

Waktu pertemuan yang panjang inilah yang nantinya dapat kita kolaborasikan dengan Quantum Teaching Metode TANDUR.
Kolaborasi KBL dan Quantum Teaching

Quantum Teaching metode TANDUR secara sempurna dapat dilakukan dalam satu pertemuan. KBL tidak mungkin dilaksanakan seperti Quantum Teaching. Kolaborasi ini dapat kita lakukan ketika proses siklus dan steps berjalan. Step semisal BKF dapat dilaksanakan dengan menggunakan TANDUR, demikian pula Steps yang lainnya.

Sebuah pengalamam menarik yang mungkin penulis bisa suguhkan untuk memberikan ilustrasi kolaborasi ini adalah ketika penulis bermaksud untuk menerangkan materi Present Perfect sebagai bagian untuk BKF text narrative. Ketika penulis menerapkan metode klasikal dengan langsung memberikan dan menanyakan rumus dari Present Perfect, banyak di antara siswa enggan untuk berpartisipasi. Begitu juga ketika penulis langsung menyuruh siswa untuk membuat kalimat yang mengandung Present Perfect, banyak diantara siswa yang saling menuding kanan dan kirinya. Jelas ini sangat tidak bagus untuk memulai sebuah proses pembelajaran panjang.

Akhirnya, untuk meredam kejadian yang tidak kondusif ini, penulis mencoba menyajikan materi ini dengan bentuk berbeda. Penulis memulainya dengan bercerita. Inilah yang dilakukan penulis:

“Ok students, today I won’t teach you anything. But, to replace my lesson I am going to tell you a story. A short story of my life. Please listen up! Just guest what I am going to tell you. Any idea....? Hendra, can you guest what I am going to say? (menunjuk satu siswa dan dia memberikan jawaban). Emm, a little bit close to my idea Hendra, but not quite correct, thanks by the way.”

“Ok students, actually I am going to tell you about my strange hobby. Yes Ical, what have I said? (penulis menunjuk seseorang lagi untuk memastikan ia mendengarkan apa tidak). Yes it is all about my hobby. I believe that all of you, have a hobby, but I am not quite sure that you have a hobby like me. Ok....my hobby is traveling. Traveling is not a strange hobby isn’t it, but what about if I do it by doing a silly thing? Can you guest what I always do when traveling?”

“Yes, I always brougth my old suitcase to every places I visited. I loved my suitcase, and that’s why I always brought it. I also liked to buy a sticker that was sold as a souvenir in that places. Although I liked buying sticker, I never bought a sticker that had no date in it. That sticker was aimed to tell to everyone that I had been in that place in a certain time. No visit without suitcase, and no happy without a sticker.”

“When I came to Bali, I bought a sticker written BALI FAIR 2001. When I came to Lombok I also bought a small pretty sticker written LOMBOK THE PARADISE ISLAND 1996. Those stickers were stick in my suitcase to remind me that I was a true traveler. And everyone would know me that I liked traveling. I liked showing off my stories.”

“Now if I have a sticker like this (penulis menempelkan stiker di papan tulis) written there JAKARTA INTERNATIONAL SEMINAR 2002. (penulis kemudian menanyakan pada siswa pertanyaan-pertanyaan dan memberi penguatan kepada mereka untuk menjawab), what can you tell from that? Any body knows what I did? Yes Aldy...Can you tell me what I did...what? Come on, I believe you can make it.

Siswa memberikan ide, “Sir I know that you went to Jakarta in 2002” (Bingo! Satu poin telah didapat kemudian penulis memberi siswa tersebut pujian)

“Excellent!! Yeah… this sticker tells us that I was in Jakarta in 2002. What about this sticker (penulis menunjukkan stiker lain, tertulis di dalamnya: MADURA BULL RACE ISLAND 2003), “Anybody knows what that means? Lukman do you want to try? (penulis menunjuk pada satu siswa dipojok belakang sebelah kiri)”

Lukman memberikan jawaban yang tidak pasti, “Hmm...may be you gone to watch Bull Race in Madura.

Penulis: “Not gone Lukman, try to use Verb two. Ok now try once again Lukman...(penulis memberikan dia kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya sendiri).

Lukman: “Sir,I mean you went to Madura to watch Bull race!”

Penulis: “Great Lukman!”

Banyak stiker kita tunjukkan kepada siswa dan yakinkan mereka untuk menjawab dengan tepat. Kemudian jelaskan kepada mereka mengapa mereka harus menggunakan bentuk Verb dua.

Ketika mereka telah mulai panas, tunjukkan satu stiker yang beda dengan sebelumnya. Di situ tertulis (ACEH SERAMBI MEKKAH, tanpa ada tahun di dalamnya). Tanyakan mereka seperti apa yang telah kita lakukan.

“Now, if I have a sticker like this, what can you infer then? What Novan? I went to Aceh? Emh... try once again Novan, you missed something. There was no date in there. Ok Naufal, what did you say? I had gone to Aceh?A little bit close Naufal.

Widad: “Sir, You have been to Aceh.”

Penulis: “Yess Widad, that’s CORRECT! (sembari menunjuk siswa yang menjawab benar dan memberinya acungan jempol) Students, this sticker has no date in there, so we have to use different verb then. So you have to answer, I have been in Aceh, or I have gone to Aceh. Very good students! Now we are going to learn Present Perfect.

Dari peristiwa di atas, kita bisa mengetahui jalannya sebuah proses belajar mengajar yang muncul dan bercermin dari ide-ide brillian siswa sendiri. Pada proses tersebut peran guru hanyalah sebagai fasilitator dalam mengantarkan siswa memahami sesuatu (materi) dan inilah yang disebut Student Centre.

Ketika sampai pada kondisi ini, mulailah kita masuk pada TANDUR. Jelaskan kepada mereka tentang pentingnya mempelajari Tenses ini sebagai bagian dari Tumbuhkan. Setelah Tumbuhkan selesai, berikan mereka Pengalaman belajar dengan kita atau siswa atau hal-hal lain sebagai modelnya. Pengalaman ini adalah bagian dari fase Alami pada TANDUR. Fase Alami telah selesai, lanjutkanlah dengan fase Namai, fase ketiga dari TANDUR. Beri mereka rumus, beri mereka contoh-contoh yang banyak yang berhubungan dengan Present Perfect.

Setelah semua itu selesai, kita langkahkan kaki kita pada fase Demonstrasikan, buat siswa menjawab beberapa pertanyaan yang kita ajukan dan buat semua siswa membuat kalimat yang di dalamnya memuat materi tadi. Ingatlah bahwa ini adalah siklus lisan, jadi minimkanlah penggunaan tulisan. Beri kesempatan kepada seluruh siswa untuk berpartisipasi hingga kita dapat meyakinkan diri kita bahwa mereka paham benar materi tersebut.

Langkah selanjutnya adalah fase Ulangi. Di akhir waktu pelajaran, ulangi lagi materi tadi secara umum dan tidak ada salahnya memberi pertanyaan kepada satu siswa secara acak untuk memastikan hal tersebut. Kemudian beri mereka kuis, satu soal saja sudah cukup. Undang mereka untuk menjawab pertanyaan. Bagi mereka yang menjawab, beri mereka hadiah atau sekedar tepuk tangan dari teman-teman dikelas. Tidak ada salahnya merayakan hasil kerja keras mereka dengan tepuk tangan bersama.

Ketika memasuki step MT, lakukanlah hal yang sama seperti yang telah kita lakukan pada step BKF. Ingatlah bahwa pada step ini kita telah masuk ke dalam teks yang sebenarnya. Mulailah dengan Tumbuhkan dengan membuat kejadian-kejadian menarik yang berhubungan dengan Narraritve, semisal kita menunjukkan gambar Buaya yang berada di bawah kaki seekor kera (untuk melangkah pada cerita rakyat buaya dan beruk) atau putri cantik yang bertelanjang kaki (Cinderella) dan lain sebagainya. Semakin kita kreatif dalam membuat pengalaman belajar pada siswa, semakin menarik pula pelajaran yang kita berikan.

Temuan-temuan menarik
Penulis ketika melaksanakan penelitian ini sedang mengajar di kelas X kelompok putra dan putri Average (Sekolah membagi siswa yang berjumlah 58 siswa ke dalam enam kelas berdasarkan hasil tes penempatan yang dilakukan di awal semester 2. Hasilnya adalah kelas Putra High dengan siswa berjumlah 7 orang, kelas Putra Average dengan siswa berjumlah 11 orang, kelas Putra Low dengan siswa berjumlah 8 orang, kelas Putri High dengan siswa berjumlah 10 orang, kelas Putri Average berjumlah 11 orang, dan Putri Low berjumlah 8 orang.
Ketika penulis melaksanakan pengamatan selama satu semester dan melihat beberapa aspek termasuk didalamnya hasil nilai UTS siswa, penulis menemukan hal yang menarik, yaitu, dari 22 siswa yang penulis ajar, mereka mendapatkan kemajuan sebagai berikut:
1. 3 siswa mengalami peningkatan yang signifikan yang dilihat dari hasil UTS mereka yang bagus
(mereka tidak ikut remedial teaching, padahal semester sebelumnya ketiga murid tersebut
mengikuti remidi)
2. 1 siswa mulai terbuka dan berpastisipasi aktif dalam kelas sehingga mendapatkan nilai afektif
90 dengan Kriteria A (semester sebelumnya, siswi ini tertutup dan pasif dalam kelas)
3. 1 siswa berhasil masuk 10 besar nilai raport sisipan (semester sebelumnya, siswa ini ada di
kelas High, kemudian dipindah ke kelas Average karena nilai listeningnya yang kurang
memuaskan)
4. 60 persen dari jumlah siswa memiliki kenaikan prestasi 10 persen yang dilihat dari hasil nilai
raport sisipan mereka.
5. 10 siswa putra mendapat nilai afektif A dan 1 orang B karena kerja keras dan keaktifan
mereka di kelas, dan seluruh siswa puti mendapat nilai afektif A (semester sebelumnya ada 4
orang mendapat nilai afektif C dan 1 orang D)

Penutup
Dari apa yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, terlihat jelas bahwa KBL sebagian bagian dari kurikulum pendidikan di Indonesia apabila di kolaborasikan dengan Quantum Teaching dapat menghasilkan output yang memuaskan. Hal ini terlihat dari penelitian yang dilakukan di kelas oleh penulis. Namun meskipun demikian, untuk mengkolaborasikan dua sistem pengajaran tersebut kita memerlukan banyak sekali kreatifitas untuk mendukung pengkolaborasian keduanya di dalam kelas, dan hal ini tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya antusiasme dari guru sebagai pengajar. Guru adalah bukan saja orang yang memberikan pengajaran di kelas, tetapi juga dituntut untuk bertindak sebagai planner, manager, motivator, instructional expert, leader, counselor dan model (woodfolk, 1987). Nah, sanggupkah kita melakukan itu semua?

Iqbal Nurul Azhar

DAFTAR PUSTAKA


Alwasilah, A. Chaedar. 2006. Kurikulum Berbasis Literasi. www.pikiran-rakyat.com.1 mei 2006

DePorter, Bobbi. 1992. Quantum Learning: Unleashing the Genius in You. New York: Dell Publishing

DePorter, Bobbi dkk. 2002. Quantum Teaching: Mempraktekkan Quantum Learning di ruang-ruang kelas. Bandung: Kaifa

Ridho, Rasyid. 2006. Cerahkan Dunia Pendidikan Dengan Metode Quantum Teaching. www.ekifamily.bloghi.com. 25 mei 2006

Rimm, Sylvia, Dr. 1998. Smart Parenting, Mendidik anak dengan bijak. Jakarta: PT Grasindo

Stein & Book, 2002. Ledakan EQ. Bandung: Kaifa

Setiawan, Slamet. 2001. First Language Maintenance: Evidence of Indonesian in Auckland that is unlikely to succeed. Jurnal Bahasa Verba, Vol. 2 No. 37, 173-181

Woolfolk, A.E. 1984. Educational Psychology. New Jersey: Prentice Hall Inc, Englewood Cliffs

1 komentar:

Dian Fauziyyah mengatakan...

Terima kasih, bermanfaat sekali tulisannya ^^