Jumat, 07 November 2008

TANGGUNGJAWAB PENDIDIK MENGEMBANGKAN SOFTSKILL

Mahasiswa sebagai the agent of change seharusnya mampu untuk memberikan kontribusi besar bagi perubahan di lingkungan sekitarnya dan masyarakat dalam arti yang luas. Ternyata sistem pendidikan di tanah air belumlah mampu mencetak mahasiswa sesuai dengan harapan tersebut. Sistem pendidikan cenderung menelurkan mahasiswa yang secara intelektual tidak diragukan lagi kepintarannya, tapi bagaimana dengan secara sosial atau kemampuan beradaptasinya?

Studi menunjukkan bahwa di dunia kerja, hard skill hanya berperan sebesar 20% sedangkan sisanya ditentukan oleh soft skill yang dimiliki oleh personalnya. Hard skill adalah kompetensi akademik sedangkan soft skill adalah kompetensi non akademik. Yang termasuk soft skill adalah ketrampilan dalam berpikir analogis, berpikir kritis, bekerja secara tim, bekerja mandiri, berkomunikasi, dll. Hard skill bisa membawa seseorang pada posisi atau jabatan yang diinginkannya namun kemampuan soft skill-lah yang membawanya untuk bisa bertahan. Soft skill perlu ditumbuhkan dan dikembangkan dengan tujuan agar seseorang lebih berhasil, lebih berfungsi sebagai anggota keluarga, komunitas, dan dunia kerja. Pengembangan soft skill bisa dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar ataupun kegiatan extra kurikuler.

Penerapan soft skill di ruang-ruang kelas adalah usaha dhohir (nyata). Bagaimana dengan usaha batin, yaitu doa? Sudahkah kita melakukannya? Bukankah usaha nyata tanpa diiringi dengan doa terasa tak sempurna? Begitu juga dengan doa saja tanpa adanya usaha nyata juga percuma. Bagaikan sayur tanpa garam, terasa hambar.

Sedari awal hendaknya kita melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas karena percuma saja gerak kita bila Tuhan tidak meridhoinya. Kekuatan dan kemampuan manusia terbatas, sangatlah terbatas. Dimana tidak semua hal bisa dijangkau melalui sekedar usaha saja. Satu cara yang menunjukkan usaha melibatkan Tuhan dari awal perjalanan adalah melalui berdoa. Karena berdoa menunjukkan ketergantungan kita kepada Tuhan dan penyerahan total setelah melakukan upaya sebatas kemampuan kita. Bukankah kekuatan doa membawa pengaruh besar bagi kehidupan kita?

Berapa banyak dari kita, para pendidik, yang mendoakan mahasiswa? Menyengajakan diri usai ibadah kita, dengan tulus dan ikhlas mengangkat tangan, mengucap doa untuk kebaikan bagi mereka. Minimal berdoa agar mereka tetap berada pada jalan yang diridhoi oleh Tuhan. Mungkin bisa dihitung dengan jari di lingkungan kerja kita masing-masing pendidik yang benar-benar mendoakan anak didiknya. Betapa egoisnya bila kita sibuk mendoakan keluarga, anak-anak, dan orang-orang terdekat kita padahal kita punya “anak-anak” di tempat lain yang mungkin terlupakan tidak kita ikut sertakan dalam doa-doa yang kita panjatkan tiap harinya.

Mahasiswa adalah anak-anak kita juga. Yang membedakannya hanyalah wilayahnya saja. Mahasiswa adalah anak-anak kita di kampus, sedangkan di rumah ya adalah anak-anak kita yang berada di rumah. Yang menyambut kita ketika pulang kerja. Yang ribut menanyakan oleh-oleh apa yang kita bawa sehabis pulang bepergian, yang bila kita memandang mata jernihnya ada kedamaian di sana. Pada hakikatnya adalah sama. Baik mahasiswa maupun anak-anak di rumah, mereka adalah tumpuan harapan kita sebagai generasi penerus dan generasi pelurus (meminjam istilahnya Ibu Rosfia Rasyid Izada) bangsa ini. Setiap orang tua pastilah menginginkan anak-anaknya kelak tumbuh menjadi anak-anak yang mempunyai segudang kebaikan, ilmu dan akhlaq.

Kita adalah pendidik mereka yang mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan mereka manusia yang mempunyai kompetensi yang membawa manfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga, komunitas, dan dunia kerja. Dengan kata lain kita jadikan mereka KAKAP BESAR, yaitu mahasiswa yang mampu dan mau kreatif, analisis kritis, komunikatif, ambil keputusan, pecahkan masalah, belajar terus, sikap positif, aktif-proaktif, dan rasional. Dan pembelajaran tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial melainkan menyeluruh. Dalam arti, sebenarnya, proses pembelajaran itu terus berlangsung walaupun setelah mereka lulus. Oleh karena itu, setelah mereka lulus pun kita masih punya tanggung jawab terhadap anak didik kita. Nah, disinilah doa itu berperan.

Setelah mereka lulus kita tidak bisa selalu memantau keberadaan dan bagaimana mereka. Tapi ada yang bisa melakukannya, yaitu Tuhan. Tuhanlah—karena doa kita—yang akan menuntun mereka ke jalan kebaikanNya. Bahwa ada hidden guidance yang mengatur segalanya. Tangan-tangan Tuhanlah yang akan membimbing mereka dan menjadikan mereka menjadi manusia yang banyak memberi manfaat bagi umat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang bisa memberi banyak manfaat bagi orang lain? Bukankah kita, dosen dan institusi tempat kita bernaung juga nanti yang akan memetik buahnya?

Menurut saya tidak ada yang namanya mantan guru atau mantan dosen, yang ada adalah mantan mahasiswa. Yang namanya pendidik tetaplah seorang pendidik. Sampai kapanpun nilai-nilai itu akan terus melekat. Implementasi soft skill akan jauh lebih efektif bila disampaikan dalam bentuk ketauladanan. Karena akan lebih mengena di sanubari anak didik kita. Jadi apa yang disampaikan juga dilakukan. Adalah hal yang mustahil bila kita melarang mereka melakukan sesuatu tapi justru kita melakukannya. Bagaimana mungkin kita bisa mengajak orang lain untuk berbuat baik, bila kita sendiri masih jauh dari kebaikan dan malah dekat dengan keburukan? Ketauladanan perlu ada dalam setiap ruang gerak kita.

Ada kalanya kita berpikir bahwa kita sudah bekerja keras dan melakukan yang terbaik guna merubah dan menjadikan mereka mahasiswa yang berkualitas namun hasilnya, yah, bisa dikatakan itu-itu saja. Tidak ada perubahan kebaikan yang terjadi. Apakah kita akan menyerah untuk kemudian menyalahkan pihak lain karena kegagalan kita? Apakah kita akan menyalahkan, semisal institusi sebelum jenjang perguruan tinggi—pabila input mahasiswa kita tidak seperti yang diharapkan. Maka, apa yang terjadi kemudian? Semua pihak akan saling menyalahkan. Apakah persoalan akan selesai begitu saja? Tentu tidak. Disinilah letak ujian bagi para pendidik. Bukankah Tuhan memberi ujian untuk mengetahui siapakah diantara hamba-hambaNya yang paling bertaqwa. Oleh karena itu janganlah kita mudah menyerah dengan mengerdilkan pikiran dan berpikir bahwa kita sudah bekerja keras namun hasilnya nol. Nol itu adalah ukuran kita, manusia, hamba Tuhan tempatnya lalai. Di mata Tuhan tak ada yang sia-sia, bahkan kebaikan sebesar biji sawipun akan mendapat balasannya. Kebaikan yang kita tanamkan pada mereka tidak serta merta bisa dilihat hasilnya saat itu juga. Butuh proses dan waktulah yang akan menjawabnya. Nah, sudahkah kita mendoakan mereka?

E.C.S.H

Tidak ada komentar: