Senin, 24 November 2008

PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM PENGAJARAN MUATAN LOKAL BAHASA DAERAH

ABSTRACT:

Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedang puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini juga terancam punah. Untuk mengatasi ini pemerintah memasukkan bahasa daerah sebagai salah satu mata pelajaran resmi yang berbentuk muatan lokal. Namun sayangnya, banyak dijumpai kelemahan dalam pengajaran muatan lokal ini, salah satunya adalah masih monotonnya sistem pengajaran bahasa daerah di kelas. Penerapan metode mengajar yang beragam yang disertai dengan penggunaan multimedia yang bervariasi diyakini mampu menutupi kelemahan ini. Artikel ini mencoba mengulas tuntas hal tersebut.

Kata kunci: muatan lokal, Bahasa daerah, multimedia, kelas

A. PENDAHULUAN

Bahasa daerah adalah bahasa komunikasi sehari-hari yang dipakai oleh masyarakat lokal. Bahasa ini telah bertahan melewati berbagai macam perubahan zaman sehingga akibat dari berinteraksinya bahasa ini dengan berbagai macam kondisi dan stuasi, maka muncullah berbagai macam jenis dialek dan logat yang berbeda. Akibatnya bahasa daerah yang di ucapkan oleh satu masyarakat, meskipun secara akar dan rumpun sama, tetapi dalam prakteknya memiliki perbedaan dengan bahasa daerah yang diucapkan oleh masyarakat daerah lain. Kita ambil contoh yaitu bahasa Jawa Solo. Meskipun secara rumpun sama, namun dalam beberapa aspek jelas berbeda dengan bahasa Jawa Banyuwangi. Demikian pula yang terjadi di Madura. Meskipun sama-sama menggunakan bahasa Madura, orang Madura akan dapat terlihat jelas apakah dia berasal dari Bangkalan atau Sumenep ketika mereka berbicara. Perbedaan ini bisa dilihat dari perbedaan aksen dan intonasi yang diucapkan oleh dua masyarakat yang berbeda tapi sama tersebut.

Meskipun berbeda, bahasa daerah ini memiliki kesamaan yang tidak dapat dibantahkan terutama dalam hal yang berhubungan dengan sastra. Peribahasa adalah contoh nyata dari hal ini. Antara masyarakat Malang maupun masyarakat Yogyakarta pasti tidak akan berbeda pendapat untuk mengartikan Tut Wuri Handayani yang memiliki makna dari belakang memberikan motivasi untuk maju. Demikian juga peribahasa Madura Akantha belling kaojanan, yang memiliki makna seseorang yang tidak mempan untuk dinasehati, pastilah orang Sampang maupun Pamekasan tidak akan berbeda persepsi untuk mengartikannya. Ada puluhan atau ratusan bahasa sastra dan peribahasa yang ada di masyarakat daerah yang mungkin akan sayang sekali apabila bahasa ini hilang hanya karena masyarakat daerah tidak menggunakan atau bahkan mungkin tidak mempelajarinya sama sekali.

Kekhawatiran ini memang cukup berasalan. Sebuah temuan mengejutkan yang didapat dari hasil penelitian para pakar bahasa dari sejumlah perguruan tinggi menjelaskan bahwa sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedang puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini juga terancam punah (www. tempointeractive.com). Pada tahun 2005, berdasarkan penelitian Pusat Bahasa Depdiknas RI, bahasa daerah di Indonesia berjumlah 731 bahasa. Pada 2007 tinggal 726 bahasa, karena 5 bahasa diantaranya mati (www.elbud.or.id.htm). Untuk menyelamatkan bahasa daerah dari kebinasaan inilah, maka Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah mencantumkan Bahasa Daerah sebagai muatan lokal yang harus dan wajib dipelajari.

Dalam sejarah pengajaran bahasa daerah, seperti survei tahun 1999 (Rusyana dalam Rosidi ‘ed.’, 1999: 72-75), bahasa daerah diajarkan di lima belas propinsi, yaitu Aceh, Sumatra Utara, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Bali. Propinsi lain yang menyusul mengajarkannya, yaitu Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jakarta, Iirian Jaya, dan Nusa Tenggara Timur. Bahasa daerah yang diajarkan adalah bahasa Aceh, Gayo, Batak Mandaliling, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Melayu, Rejang, Lampung, Sunda, Cirebon, Madura, Dayak Simpang, Dayak Kanayatan, Banjar, Kutai, Tombulu, Tonsawang, Mongondow, Bugis, Makasar, Mandar, Toraja, Tolaki. Muna, Wolio, dan Bali. Bahasa-bahasa daerah itu diajarkan di semua SD dan SLTP. Untuk tingkat SLTA, seperti bahasa Jawa baru diajarkan di sekolah guru dan SMU Bahasa.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang pada substansinya adalah kurikulum berbasis kompetensi, menawarkan setitik asa terhadap peningkatan kualitas pembelajaran bahasa daerah sebagai salah satu muatan lokal. Bahasa daerah yang dulunya posisinya masih belum pasti karena tidak ada aturan jelas tentang tata laksanya, kini mulai mendapatkan perhatian. Perhatian ini setidaknya akan meminimalisir bervariasinya perlakuan daerah terhadap mata pelajaran ini.

KTSP (Depdiknas, 2006) memberikan arahan tentang posisi bahasa daerah dalam proses pembelajaran di sekolah. Mata pelajaran ini merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan potensi daerah beserta ciri khasnya, termasuk di dalamnya keunggulan daerah, corak kehidupan lokal daerah tersebut yang kesemuanya dikelompokkan ke dalam topik atau subtopik yang bervariasi. Inti dari mata pelajaran bahasa daerah ini ditentukan oleh Satuan Pendidikan. Keberadaan mata pelajaran bahasa daerah merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat. Inilah wujud nyata desentralisasi pendidikan yang berakar kuat pada kearifan terhadap keadaan dan kebutuhan lokal.

Muatan lokal (mulok) sebagai salah satu unsur muatan Kurikulum 1994 mulai diterapkan sejak tahun 1994. Status mulok sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah (dasar dan menengah) kemudian diperkuat posisinya dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang disahkan pada tanggal 8 Juli 2003 (pos kupang.com). Meskipun sudah lama diterapkan, sayangnya, hasilnya ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal mendasar yang mungkin dapat dijadikan alasan adalah bahwa bahasa daerah adalah bukan bahasa official/resmi yang wajib dipakai di dalam segala kegiatan formal. Bahasa daerah hanyalah bahasa komunikasi sehari-hari yang ketika dipakaipun kadang kurang memenuhi standard penggunaannya karena sering dicampur adukkan dengan bahasa lain. Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa resmi negara Indonesia dipakai sebagai bahasa formal yang kegunaannya akhir-akhir ini menjadi “trend” dan mampu “mengalahkan” penggunaan bahasa daerah dalam masyarakat.

Sebagai bukti nyata ada dalam pelaksanaan Festival Duta Wisata di Madura. Dari hasi pengamatan penulis[1], tidak kurang dari 40 persen peserta festival tidak bisa berbahasa daerah, 60 persen sisanya bisa berbahasa daerah dengan catatan bahasa yang mereka pakai adalah bahasa kasar[2]. Hanya 3 persen dari keseluruhan peserta festival tersebut yang mampu secara lancar mengungkapkan idenya dengan menggunakan bahasa halus secara tepat dan lancar. Fenomena ini dapat menjadi pukulan telak terhadap masyarakat Madura, karena para calon duta wisata yang diharapkan mampu mewakili nama baik kota tempat kelahiran mereka ternyata memiliki kelemahan yang mungkin bagi sebagian masyarakat yang masih memegang teguh budaya sebagai cacat yang tidak termaafkan. Berkaca dari pengalaman tersebut, maka timbul sebuah pertanyaan yang perlu kita kaji secara mendalam. Mengapa semua itu bisa terjadi?

Secara logis, satu pertanyaan tersebut muaranya berasal dari dua hal. Yang pertama adalah dari faktor keluarga sebagai basis pendidikan terkecil dari masyarakat, dan yang kedua adalah dari tempat mereka menimba ilmu yaitu sekolah. Dan andaipun kita diminta untuk membandingkan keduanya, lebih besar manakah pengaruh keluarga dan sekolah yang menyebabkan fenomena ini mampu terjadi, maka kita dengan yakin dapat menunjuk sekolah sebagai bagian yang menyumbang tangan terhadap adanya fenomena ini terjadi. Mengapa Sekolah? Karena jelas lembaga ini memiliki perangkat formal yang sebenarnya sangat mampu menanggulangi masalah tersebut. Perangkat pertama adalah sistem, yang kedua adalah kurikulum. Sistem dapat memaksa anak-anak untuk belajar bahasa daerah dengan baik dan benar melalui pelaksanaan pembelajaran formal sehari-hari yang kemudian secara formal pula dikhiri dengan ujian, sedangkan kurikulum adalah kerangka dan pedoman nyata akan kemana mata pelajaran muatan lokal ini diarahkan.

Sistem dan kurikulum ini memang telah diimplementasikan oleh sekolah-sekolah yang mengajarkan muatan lokal bahasa daerah. Namun sayangnya ada banyak sekali kelemahan yang dijumpai, diantara lain: (1) materi pengajaran bahasa daerah lebih banyak menekankan pada pembahasan peribahasa, arti kosakata, isi dari sebuah teks, perubahan bahasa kasar ke bahasa halus, dan bagaimana menulis dengan huruf kuno (honocoroko, hanacaraka), sedang pembahasan tentang tata bahasa daerah yang baik dan bagaimana mengucapkan satu kata lewat metode menyimak, jarang dilaksanakan. Padahal tidak semua siswa di sekolah tersebut adalah asli orang daerah tersebut. Mereka butuh kaset atau media lainnya yang bisa mereka pelajari di rumah yang berisi kosakata dan bagaimana cara mengucapkannya. (2) kegiatan pembelajaran masih menggunakan gaya lama, yaitu ceramah dan jarang melibatkan kegiatan praktek seperti presentasi menggunakan bahasa daerah halus, atau memberikan sambutan dengan menggunakan bahasa daerah. (3) Guru jarang atau bahkan mungkin tidak pernah memakai peralatan multimedia seperti tape, dan TV untuk mengajarkan bahasa daerah di kelas. Padahal sumber belajar anak-anak tidak hanya ada di buku diktat mereka saja.

Kelemahan yang dipaparkan di atas menyebabkan pengajaran bahasa daerah terkesan monoton dan membosankan, sehingga banyak diantara siswa yang malas untuk belajar dengan sungguh-sungguh ketika pengajaran bahasa ini dilaksanakan.

Dari apa yang telah disebutkan di atas, maka tulisan ini mencoba menawarkan konsep pengajaran muatan lokal bahasa daerah dengan memanfaatkan multimedia sebagai salah satu sarana untuk menarik minat siswa untuk lebih tekun belajar bahasa daerah mereka sendiri. Fokus diskusi dari konsep yang ditawarkan dalam artikel ini akan dibagi ke dalam empat poin penting yaitu; (a) bagaimana membuat pembelajaran bahasa daerah bermakna dan menarik (b) manfaat media dalam pengajaran bahasa daerah (c) sarana multimedia yang bisa dipakai dalam pengajaran bahasa daerah (d) bagaimana memanfaatkan sarana belajar multimedia dalam pengajaran bahasa daerah.

B. MEMBUAT PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH BERMAKNA DAN MENARIK

Pembelajaran bahasa daerah hendaknya berlangsung tidak sekedar meaning getting, tetapi berupa proses meaning making, sehingga akan terjadi internalisasi nilai-nilai dalam diri siswa. (wibawa, sutrisna, 2007). Dengan pola ini, siswa tidak dipaksa bekerja keras menggunakan aspek kognitif mereka untuk memahami seperangkat kaidah. Energi mereka lebih diarahkan kepada pengembangan aspek afektif, sesuai dengan sifat bahasa daerah itu sendiri yang sebagian besar bersubstansikan nuansa afektif. Konsep pembelajaran seperti ini akan dapat diimplementasikan dengan baik pada semua pengajaran bahasa daerah di daerah manapun, karena pada dasarnnya bahasa-bahasa daerah di Indonesia memiliki karakteristik yang sama, yaitu penuh dengan substansi afektif.

Belajar dari pelaksanaan pembelajaran muatan lokal kurikulum 1994, guru sebagai manajer, team leader, pendidik dan sutradara kegiatan kelas terkesan kurang memahami apa yang ditulis dalam GBPP mereka. Tanpa pemahaman penuh terhadap apa yang tertulis dalam GBPP tersebut, mereka melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Dengan penuh ketidakyakinan, mereka menjelaskan apa saja yang mereka ketahui. Kesulitan ini menyebabkan guru kehilangan fokus karena perhatian mereka terpecah. Selain guru harus dapat memahami GBPP, guru juga harus dapat menyiapkan skenario pembelajaran yang baik. Karena masalah inilah, guru hanya menjelaskan saja kepada siswa beberapa teori verbalistik (aspek kognitif saja) dan bukan berusaha membuat mereka memahami dan mengarahkan mereka kepada mencintai (salah satu aspek afektif). Tentu keadaan ini dapat dijadikan sebagai cermin berharga untuk berkaca terhadap kelemahan pembelajaran bahasa daerah saat ini yang dapat digunakan untuk pembenahan pembelajaran bahasa daerah di tahun-tahun yang akan datang.

Pola pembelajaran bahasa daerah dengan KBK didasarkan atas pendekatan kontekstual atau yang dikenal dengan pola pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). Pembelajaran kontekstual sebagai dijelaskan dalam KTSP (Depdiknas, 2006) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru mengkorelasikan antara materi atau topik yang diajarkannya dengan keadaan di kehidupan nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Untuk pelaksanaan pembelajaran, dapat digunakan pendekatan “penyatukaitan diri dengan yang dipelajari” (immerison, mencelupkan diri ke dalamnya) (wibawa, sutrisna, 2007). Penerapan dari pendekatan ini, dalam pembelajaran bahasa daerah, siswa harus dibawa secara langsung dengan cara melibatkan diri mereka ke dalam pembelajaran bahasa tersebut secara utuh. Siswa diajak menggunakan bahasa daerah secara langsung untuk menulis atau mengarang, berbicara, membaca, dan menyimak. Kebiasaan guru menguasai kelas dengan ceramahnya yang panjang lebar tentang bahasa daerah hendaknya perlu dikurangi atau bahkan mungkin dihindari. Yang diperlukan guru di dalam kelas hanyalah memberikan instruksi seperlunya untuk mengarahkan siswa bagaimana seharusnya mereka belajar bahasa daerah di kelas tersebut. Selebihnya, diserahkan kepada siswa karena merekalah sebenarnya pusat pembelajaran. Namun apabila diperlukan, guru dapat tetap menggunakan metode lama yaitu ceramah, dan itupun hanya dilaksanakan ketika benar-benar dibutuhkan, seperti ketika guru menjumpai sebuah pertanyaan yang tidak mungkin dijawab tanpa melakukan penjelasan secara klasikal di depan kelas.

Proses immersion ini dapat diimplementasikan ke dalam berbagai macam kegiatan kelas. Kita ambil contoh dalam pembelajaran berbicara, siswa secara langsung belajar untuk berbicara (berkomunikasi dengan orang lain, berpidato, bercerita, dan menyanyi). Mereka diberi kesempatan untuk berekspresi menggunakan bahasa daerah mereka. Tugas guru hanyalah membetulkan jika ada kesalahan penggunaan kata dan tata bahasa. Pembelajaran menulis juga demikian. Siswa diajak menulis atau mengarang secara langsung (mengarang puisi, cerita pendek, cerita bebas, atau lainnya). Dalam pembelajaran menyimak, guru dapat menggunakan fasilitas multimedia (audio visual) untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar. Multimedia ini digunakan untuk menampilkan penggunaan bahasa secara langsung yang ada di masyarakat seperti tayangan ketoprak, ludruk, lagu-lagu campur sari, pentas wayang, panembrama, karawitan, dan lomba puisi berbahasa daerah.

Menggunakan permainan individu atau kelompok dalam pengajaran bahasa daerah juga dianjurkan. Selain menghindari pembelajaran yang monoton, permainan juga dipakai untuk melatih kreatifitas mereka. Semakin dini kreatifitas ini diasah, semakin bagus dan jelas hasilnya.

Yang tak kalah pentingnya adalah penggunaan media. Raharjo (1991 menyatakan bahwa visualisasi mempermudah orang untuk memahami suatu pengertian. Sebuah pemeo mengatakan bahwa sebuah gambar “berbicara“ seribu kali dari yang dibicarakan melalui kata-kata (a picture is worth a thousand words). Hal ini tidaklah berlebihan karena sebuah keris “luk sembilan” atau gambarnya akan lebih menjelaskan barangnya (atau pengertiannya) daripada definisi atau penjelasan dengan seribu kata kepada orang yang belum pernah mengenalnya.

Media pembelajaran sebagai faktor eksternal dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi belajar karena mempunyai potensi atau kemampuan untuk merangsang terjadinya proses belajar. Misalnya, (a) menghadirkan obyek langka: seperti kereta kencana, jenis-jening tembang (b) konsep yang abstrak menjadi konkrit: peribahasa, sistem masyarakat, (c) mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah dan jarak: siaran radio atau televisi pendidikan, (d) menyajikan ulangan informasi secara benar dan taat asas tanpa pernah jemu: buku teks, modul, program video atau film pendidikan berbahasa daerah,. (e) memberikan suasana belajar yang santai, menarik, dan mengurangi formalitas.

C. MANFAAT MEDIA DALAM PENGAJARAN BAHASA DAERAH.

Multimedia dalam pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Media ini semula dilihat sebagai teknologi peralatan, yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan atau dengan kata lain mengajar dengan alat bantu audio-visual. Multimedia pembelajaran merupakan gabungan dari tiga aliran yang saling berkepentingan, yaitu media dalam pendidikan, psikologi pembelajaran dan pendekatan sistem dalam pendidikan.

Media memiliki multi makna, baik dilihat secara terbatas maupun secara luas. Munculnya berbagai macam definisi disebabkan adanya perbedaan dalam sudut pandang, maksud, dan tujuannya (www. didikwirasamodra.wordpress.com). NEA (National Education Association) dalam mustolih (2008) memaknai media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibincangkan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut.

Raharjo dalam dickywirasamodra (2008) menyimpulkan beberapa pandangan tentang media. Raharjo menempatkan media sebagai komponen sumber, dan mendefinisikannya sebagai “komponen sumber belajar di lingkungan peserta didik yang dapat merangsangnya untuk belajar.” Dari definisi ini kita dapat melihat bahwa media dalam peroses pengajaran bahasa daerah dapat digunakan untuk merangsang minat belajar siswa.

Dalam definisi yang lain, Rahardjo menyatakan bahwa media dalam arti yang terbatas, adalah sebagai alat bantu proses kegiatan pembelajaran. (www. didikwirasamodra.wordpress.com). Hal ini berarti bahwa media sebagai alat bantu, dapat digunakan guru bahasa daerah untuk memotivasi belajar peserta didik, memperjelas informasi/pesan pengajaran, serta memberikan tekanan pada bagian-bagian yang penting, memberi variasi pengajaran dan memperjelas struktur pengajaran. Di sini media memiliki fungsi yang jelas yaitu memperjelas, memudahkan dan membuat menarik pesan kurikulum yang akan disampaikan oleh guru kepada peserta didik sehingga dapat memotivasi belajarnya dan mengefisienkan proses belajar. Di samping itu dikemukakan bahwa kita hanya dapat mengingat 20% dari apa yang kita dengar, namun dapat mengingat 50% dari apa yang dilihat dan didengar. Karenanya, penggunaan multimedia, yaitu media yang melibatkan indera pendengaran atau penglihatan sangat berperan penting dalam proses pembelajaran bahasa daerah.

D. PEMILIHAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH

D.1. Kriteria Memilih Media

Tiap jenis media mempunyai karakteristik atau sifat-sifat khas tersendiri. Artinya, satu media mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Dalam menentukan media yang akan dipakai, seorang guru akan mempertimbangkan banyak hal sebelum menggunakan media tersebut. Terdapat 6 hal yang biasanya dijadikan pertimbangan oleh guru dalam memilih media, antara lain: jangkauan, keluwesan, ketergantungan, kendali/kontrol, atribut, dan biaya operasional penggunaan media tersebut. (www. didikwirasamodra.wordpress.com).

1. Jangkauan

Beberapa media tertentu lebih sesuai untuk pengajaran individual misalnya buku teks, modul, program rekaman interaktif (audio, video, dan program komputer). Jenis yang lain lebih sesuai untuk pengajaran kelompok di kelas, misalnya media proyeksi (OHT, Slide, Film) dan juga program rekaman (audio dan video). Ada juga yang lebih sesuai untuk pengajaran massal , misalnya program siaran ( radio, televisi, dan konferensi jarak jauh dengan audio).

2. Keluwesan :

Dari segi keluwesan, media ada yang praktis mudah dibawa kemana-mana, digunakan kapan saja, dan oleh siapa saja, misalnya media cetak seperti buku teks, modul , diktat , dll.

3. Ketergantungan Media :

Beberapa media tergantung pemakaianya pada sarana/fasilitas tertentu atau hadirnya seorang penyaji/guru.

4. Kendali / control :

Kadang-kadang dirasa perlu agar kontrol belajar ada pada peserta didik sendiri (pelajar individu), pada guru (pelajaran klasikal), atau peralatan.

5. Atribut :

Penggunaan media juga dapat dirasakan pada kemampuanya memberikan rangsangan suara, visual, warna maupun gerak.

6. Biaya :

Alasan lain untuk menggunakan jenis media tertentu ialah karena murah biaya pengadaan atau pembuatanya. Media transparansi (OHT ) adalah sarana visual berupa huruf, lambang, gambar, grafis maupun gabungannya yang dibuat pada bahan tembus pandang atau transparan untuk diproyeksikan pada sebuah layar atau dinding dengan menggunakan alat yang disebut “overhead projector “ atau OHP. Sebagaimana halnya dengan semua jenis media proyeksi, OHT mempunyai kemampuan untuk membesarkan bayanganya di layar atau didinding sejauh kekuatan lensa dan sinar proyeksinya dapat mendukung. Oleh sebab itu, OHT sangat sesuai untuk kegiatan seminar, lokakarya, pengajaran maupun latihan yang melibatkan kelompok sasaran yang cukup besarnya sampai efektif 60 orang.

D.2. Jenis-Jenis Multimedia

Untuk mengemas pembelajaran agar lebih menarik dan tidak membosankan, guru dapat memanfaatkan sarana teknologi yang ada disekitar. Pemanfaatan teknologi ini selain membantu guru untuk menyampaikan materi dapat juga meningkatkan konsentrasi, perasaan ingin tahu dan kreatifitas anak.

Media cukup banyak macamnya, Raharjo (1991) menyatakan bahwa ada media yang hanya dapat dimanfaatkan bila ada alat untuk menampilkannya. Ada pula yang penggunaannya tergantung pada hadirnya seorang guru, tutor atau pembimbing (teacher independent). Media yang tidak harus tergantung pada hadirnya guru lazim tersebut media instruksional dan bersifat “self contained”, maknanya: informasi belajar, contoh, tugas dan latihan serta umpan balik yang diperlakukan telah diprogramkan secara terintegrasi.

Dari berbagai ragam dan bentuk dari media pengajaran, pengelompokan atas media dan sumber belajar ekonomi dapat juga ditinjau dari jenisnya, yaitu dibedakan menjadi media audio, media visual, media audio-visual, dan media serba neka.

1. Media Audio: radio, piringan hitam, pita audio, tape recorder, dan telepon .
2. Media Visual

a. Media visual diam : foto, buku, ansiklopedia, majalah, surat kabar, buku referensi dan barang hasil cetakan lain, gambar, ilustrasi, kliping, film bingkai/slide, film rangkai (film stip) , transparansi, mikrofis, overhead proyektor, grafik, bagan, diagram, sketsa, poster, gambar kartun, peta, dan globe.

b. Media visual gerak : film bisu .

3. Media Audio-visual

a. Media audiovisual diam : televisi diam, slide dan suara, film rangkai dan suara , buku dan suara.

b. Media audiovisual gerak : video, CD, film rangkai dan suara, televisi, gambar dan suara. .

4. Media Lain

a. Papan dan display : papan tulis, papan pamer/pengumuman/majalah dinding,

papan magnetic, white board, mesin pangganda.

b. Media tiga dimensi : realia, sampel, artifact, model, diorama, display.

c. Media teknik dramatisasi : drama, pantomim, bermain peran, demonstrasi,

pawai/karnaval, pedalangan/panggung boneka, simulasi.

d. Sumber belajar pada masyarakat : kerja lapangan, studi wisata, perkemahan.
e. Komputer

D.3. Multimedia Yang Cocok Dipakai Dalam Pembelajaran Bahasa Daerah

Semua media yang disebutkan di atas sebenarnya dapat dipakai dalam pembelajaran bahasa daerah. Tergantung dari sekreatif apa guru pengajar muatan lokal tersebut. Semakin kreatif seorang guru, maka media yang digunakan selama proses belajar akan semakin bervariasi. Tidak ada batasan berapa jumlah maksimal media yang dapat dipakai di dalam kelas. Asalkan memiliki keterkaitan kuat dengan tujuan pembelajaran, dan tujuan pembelajaran tersebut tercapai maka berapapun jumlahnya, media tersebut dapat diterima

Beberapa media yang sangat bermanfaat untuk digunakan di dalam kelas namun jarang dipakai oleh guru pengajar muatan bahasa daerah adalah:

a. Media alat elektronik seperti VCD/DVD atau video berisi berbagai program bahasa, sastra, dan budaya daerah seperti wayang, berbagai upacara tradisional, lagu-lagu daerah (tembang, campur sari, karawitan) dapat dipakai di dalam kelas. Pemanfaatan alat elektronik sangat membantu anak-anak terutama yang memiliki gaya belajar Auditory dan Visual. Apabila materi yang ditayangkan dalam media tersebut kemudian di asses dengan menggunakan asesmen product atau performance, maka anak-anak yang memiliki gaya belajar Kinestetik akan terbantu.

b. pemanfaatan program komputer dalam bentuk software yang berhubungan dengan bahasa dapat juga dipakai di dalam kelas atau sebagai sahabat siswa ketika mereka belajar mandiri. Untuk membaca dan menulis aksara Jawa, Dinas Kebudayaan Propinsi DIY telah menghasilkan program komputer hanacaraka yang dapat digunakan untuk pembelajaran membaca dan menulis Aksara Jawa.

c. Model pembelajaran bahasa daerah dengan memanfaatkan media pertunjukan seperti wayang atau pertunjukan tradisional lainnya kiranya dapat direkomendasikan untuk dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa daerah di sekolah.

d. Kegiatan ekstrakurikuler untuk mendukung kegiatan kurikuler juga perlu digalakkan, misalnya majalah dinding yang memuat karya siswa, sanggar sastra, karawitan, dan berbagai lomba bahasa, sastra, dan kesenian daerah. Kegiatan menggunakan bahasa daerah dalam waktu-waktu khusus juga perlu digalakkan, misalnya kegiatan sehari berbahasa Jawa (hari bahasa Jawa) di beberapa sekolah di DIY perlu diperluas ke sekolah-sekolah lain. Kegiatan pemerintahan yang menerapkan kegiatan hari bahasa Jawa juga perlu didukung dan perlu diperluas ke daerah-daerah lain.

e. pemanfaatan internet (apabila ada) sangat dianjurkan di sekolah. Internet adalah gudang informasi. Melalui internet, jutaan informasi yang berhubungan dengan bahasa daerah dapat diakses dengan cepat. Beberapa website berbahasa daerah juga dapat digunakan untuk media pembelajaran. Situs-situs itu, antara lain:

  1. www.familiazam.com/bahasa_jawa.htm
  2. www.geocities.com/mohdsabilan/
  3. www.jawapalac.org/subsastra.htm/
  4. http://jv.wikipedia.org/wiki/Kaca_Utama
  5. http://jonggringsaloka.org
  6. http://padhang-mbulan.blogspot.com
  7. www.seasite.niu.edu/Indonesian/jawa/unit1jawa.htm

E. MEMANFAATKAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH
DI KELAS.

Esensi pembelajaran muatan lokal diarahkan pada realitas penggunaan bahasa daerah dengan ragam dan laras selengkapnya yang didasarkan indeks postur batin penuturnya seperti (1) kaidah struktur, (2) contoh pemakaian bahasa yang sahih, (3) contoh kegagalan DVC (diksi, verbositas, gramatika) yang harus dihindari, (4) antisipasi perkembangan kosakata dan (5) istilah bidang iptek. (Sunoto, 2008)

Gagasan yang mengacu pada pendekatan komunikatif tersebut tersaji dalam bentuk Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Secara utuh, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang diharapkan dapat dicapai lewat pembelajaran ini dirumuskan dalam bentuk kemampuan untuk mendengaran dan memehami, berbicara, membaca dan memahami, memberikan respon secara tulisan berbagai bentuk wacana non sastra maupun sastra baik lisan maupun tulisan, dan yang terakhir adalah mampu mengapresiasi sastra daerah tersebut dalam bentuk yang lebih konkret yaitu mencintai karya sastra daerah. Dari gambaran ini kita dapat membedakan subsatansi pengajaran bahasa daerah ke dalam dua siklus besar yaitu siklus lisan dan tulisan. Dengan pemetaan ini maka kita dapat menentukan jenis multimedia pembelajaran yang akan dipakai guru di dalam kelas.

Pemakaian Multi Media Elektronik dalam Siklus Lisan dan Tulisan

1. Siklus Lisan

Siklus lisan terbagi dalam dua ranah yaitu ranah menyimak dan berbicara. Ketika materi belajar telah sampai pada ranah ini maka multimedia yang cocok adalah multimedia yang mampu memaksimalkan kemampuan audio dan visual siswa yaitu mata dan pendengaran mereka. Tidak hanya itu, andaikata memungkinkan, kemampuan psikomotorik mereka harus juga bisa dioptimalkan melalui kegiatan yang melibatkan pergerakan tubuh siswa, minimal gerak otot lidah dan mulut dalam bentuk pelafalan.

Misalnya pada mata pelajaran muatan lokal bahasa Jawa, ketika materi telah masuk pada topik Kareman (hobby) seperti sepedhahan (bersepeda), maka sebaiknya guru tidak memulai membuka kelas dengan meminta siswa membaca teks, karena kegiatan membaca teks tidak berada dalam ranah lisan. Sebaiknya guru memulai membuka kelas dengan cara memberikan informasi-informasi pengantar yang berhubungan dengan topic (Building Knowledge of the Topic) seperti menanyakan kepada mereka apakah mereka punya sepeda, sepeda apa yang mereka punya, kapan mereka biasanya bersepada, dan bagaimana perasaan mereka ketika bersepeda. Guru juga dapat membuka kelas dengan memutarkan kaset yang di dalamnya terdapat teks yang dibacakan dengan menggunakan narasi bahasa jawa, atau guru juga dapat memutarkan film yang berhubungan dengan hobby bersepeda dan alangkah lebih baiknya kalau hobi tersebut berhubungan dengan sepeda kuno karena lebih bernuansa tradisional.

Disini akan terlihat betapa besar peranan multimedia. Selain karena siswa akan dapat mendengar dan melihat secara langsung apa sepeda itu, bagian-bagiannya seperti apa, dan cara bersepeda yang sehat itu bagaimana, perhatian mereka akan sepenuhnya tersita untuk mendengar dan melihat media yang diputar.

Perhatian dari mereka inilah yang sangat penting didapatkan dalam proses belajar mengajar. Tingkat perhatian mereka dapat diukur dari hasil respon mereka terhadap pertanyaan yang diajukan oleh guru yang berkaitan dengan topik. Semakin besar perhatian terhadap media, maka semakin besar pula tingkat kebenaran jawaban mereka terhadap pertanyaan.

Karena aktifitas yang dilaksanakan berada dalam siklus lisan, maka selain kegiatan menyimak, terdapat pula kegiatan berbicara. Guru dapat mensetting kegiatan ini dalam bentuk kegiatan presentasi perorangan tentang hobby bersepeda, atau andaikata guru ingin kegiatan tersebut lebih menantang lagi, guru dapat membuat kegiatan roleplay seperti seminar tentang sepeda, atau kegiatan pidato individu dengan topik budayakan hidup sehat dengan sepeda. Kegiatan presentasi ini jelas melibatkan aspek psikomotorik yaitu kegiatan menggerakkan mulut dan bagian-bagian tubuh lainnya. Ketika siswa presentasi, guru dapat menggunakan media seperti pengeras suara WA (Wireless Amplifier) untuk membantu siswa presentasi dan untuk merekam presentasi tersebut. Guru dapat memberikan penjelasan bahwa hasil pidato tersebut akan diputar di kelas sebelah, sehingga dengan adanya penjelasan ini, para siswa akan lebih bersungguh-sungguh mempersiapkan pidato bahasa daerah mereka. Hasil rekaman tersebut dapat bermanfaat banyak untuk pembelajaran bahasa daerah tersebut di masa depan. Selain dapat dijadikan model tentang pidato, hasil pidato tersebut dapat dijadikan bahan pengajaran yang berhubungan dengan tata ukara maupun kosakata. Kesalahan-kesalahan kosakata maupun tata bahasa yang ada di dalam pidato dapat ditampilkan dan dijadikan bahan untuk evaluasi agar tidak diulang untuk dilakukan lagi oleh siswa tahun-tahun selanjutnya.

Andaikata guru bermaksud untuk melanjutkan topik tersebut dan mengarahkannya pada pembahasan tata ukara (tata bahasa), misalnya tentang pola jejer-wasesa (Subjek-Predikat) maka guru dapat melakukan penjelasan itu dengan menggunakan slides yang ditampilkan melalui LCD ataupun lewat OHP. Penggunaan LCD maupun OHP jauh lebih efektif dari pada hanya menggunakan media tulisan di papan tulis. Selain karena menghemat waktu karena guru tidak perlu menuliskannya di papan tulis, slide yang ditampilkan dapat jauh lebih menarik karena penuh warna dan gambar. Di dalam slide juga dapat ditampilkan suara-suara unik yang mampu mengundang perhatian siswa. Andaikata guru mampu, guru dapat menambahkan slide dengan informasi tentang contoh pemakaian kata yang benar dalam kalimat, serta bagaimana intonasi yang bener cara mengucapkan kalimat tersebut.

Media seperti yang sudah disebutkan di atas besar sekali peranannya dalam menumbuhkan rasa senang dan cinta terhadap bahasa daerah melalui kegiatan apresiatif dan rekreatif. Selain dengan mendengarkan berita seputar topik, siswa bisa diajak untuk menikmati lagu-lagu campursari, keroncong, dan langgam Jawa (bahasa Jawa) serta memahami makna syairnya. Menikmati acara ketoprak humor, ketoprak jampi stres, dan ludruk humor yang telah direkam dari siaran televisi sangat baik untuk dilaksanakan dalam siklus lisan ini asalkan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran.

Guru juga dapat memprogramkan kegiatan ektrakulikuler yang berhubungan dengan bahasa daerah dengan cara mengajak mereka secara langsung menikmati wayang kulit hasil garapan baru seperti yang dipentaskan oleh Ki Enthus Susmono, Ki Joko Hadiwijoyo ("dalang edan'') sampai ke wayang serius oleh Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Soedharsono. Kegiatan melihat dan menikmati secara langsung ini sangat sesuai dengan apa yang disebutkan sutrina wibaya sebagai immersion “penyatukaitan diri dengan yang dipelajari” (wibawa, sutrisna, 2007).

2. Siklus Tulisan

Siklus tulisan sebagai siklus kedua terbagi dalam dua ranah yaitu ranah membaca dan menulis. Pada dua ranah ini multimedia yang cocok adalah multimedia yang mampu memaksimalkan kemampuan visual-kognitif dan psikomotorik siswa yaitu mata dan kemampuan gerak tangan mereka. Karena fokus dari siklus ini adalah membaca dan menulis, maka alat bantu mengajar yang paling dominant yang dipakai di dalam kelas adalah teks. Karena melibatkan teks tulis, maka penggunaan LCD, buku modul, komputer, internet, dan alat tulis sangatlah optimal dalam siklus ini.

Untuk membuka siklus ini guru dapat bermain-main dalam fase Building Knowledge of the Topic (memberikan pengantar informasi yang berhubungan dengan topic). Kita ambil contoh misalnya dalam pengajaran bahasa Madura. Topik yang akan diangkat adalah Namen Salak (menanam salak). Guru dapat menggunakan LCD untuk menampilkan gambar salak dan mengundang mereka untuk membuat kalimat satu saja di papan tulis yang berhubungan dengan salak. Yang dikoreksi bukan isi dari tulisan itu, tapi bagaimana bentuk tulisan tersebut, apakah terdapat kesalahan kosa kata atau salah tata bahasa. Tulisan anak-anak kemudian diberikan koreksi seperlunya. Tidak perlu terlalu detail, karena focus pembahasan bukan pada tata bahasa, tetapi pada membaca. Menuliskan satu kalimat hanya pengantar saja sebelum masuk pada materi.

Setelah pengantar, guru masuk pada inti materi yaitu membaca. Ada banyak cara untuk melaksanakan kegiatan ini. Guru bisa menyuruh siswa membuka buku mereka dan membacanya jika memang guru siswa punya, atau guru memberikan foto kopi teks membaca tersebut satu persatu, atau guru bisa menampilkan teks tersebut lewat LCD atau OHP. Teks yang ada pada buku maupun slide berfungsi sebagai model bacaan bagi mereka. Model ini yang akan menjadi contoh ketika mereka akan masuk pada fase menulis.

Jika guru ingin kelas menjadi lebih meriah, siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil dan tiap kelompok itu diberikan amplop yang di dalamnya terdapat kertas-kertas yang berisi sebuah teks yang di potong-potong tiap paragraph. Teks tersebut berisi segala hal yang berhubungan dengan Namen Salak. Kelompok tersebut kemudian diminta menyusun potongan paragraph menjadi sebuah teks lengkap. Kelompok yang tercepatlah yang menang.

Jika jumlah siswa di kelas tidak terlalu banyak, guru dapat memainkan game running dictation, yaitu permainan perkelompok yang tujuannya adalah untuk memindahkan teks ke dalam selembar kertas tulis. Untuk memainkan permainan ini, guru hanya cukup menyiapkan kertas model yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kelompok. Kertas tersebut kemudian ditempelkan di luar kelas. Satu perwakilan siswa dari tiap kelompok dimainta keluar untuk membaca teks tersebut dan menceritakan apa yang telah dibaca dan diingatnya tentang isi teks kepada anggota kelompok yang lain. Perwakilan tersebut kemudian digantikan oleh yang lain secara bergiliran untuk mendapatkan keseluruhan isi teks. Kelompok yang telah dapat menyusun dengan tepat dan tercepat dari teks yang ditempelkan di luar kelas, kelompok itulah yang menang.

Untuk meningkatkan semangat berkompetisi yang sehat, guru dapat menyiapkan hadiah yang menarik yang bisa dinikmati bersama-sama oleh anggota kelompok yang telah memenangkan lomba. Hadiahnya cukup yang murah saja, seperti buku atau camilan. Kegiatan ini selain dapat meningkatkan antusiasme siswa dan mempererat kekerabatan diantara mereka, dapat pula meningkatkan jiwa sportivitas mereka.

Untuk mengoptimalkan kemampuan psikomotorik mereka terutama dalam hal menulis, guru juga dapat memberikan tugas menulis apa saja tentang salak dengan menggunakan bahasa daerah. Siswa diberikan keleluasaan untuk mendapatkan inspirasi dengan mengajak mereka ke lab komputer dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk browsing di internet mencari informasi tambahan tentang salak. Apabila waktu tidak mencukupi, tugas mereka menulis dapat dibawa pulang sebagai PR.

Dari pembelajaran yang melibatkan kegiatan membaca dan menulis dengan topik namen salak ini, kita bisa menghitung berapa banyak media yang dipakai. Ada lebih dari 7 media yang digunakan dalam kegiatan ini, dan semua media yang digunakan berfungsi untuk mendukung kegiatan pembelajaran agar lebih menarik.


F. SIMPULAN

Dari paparan tentang penggunaan multimedia dalam pengajaran muatan lokal bahasa daerah di sekolah, dapat disimpulkan beberapa hal:

1. Bahasa daerah berada dalam situasi yang memprihatinkan, karena banyak penggunanya yang telah meninggalkan bahasa ini. Untuk mengatasi bertambahnya bahasa daerah yang mati, maka pemerintah memberlakukan bahasa daerah sebagai muatan lokal yang dipelajari di sekolah.

2. Meskipun menjadi muatan local dan diajarkan di sekolah, mata pelajaran bahasa daerah masih kurang diminati siswa. Hal ini disebabkan mata pelajaran bahasa daerah diajarkan dengan cara monoton dan klasikal.

3. Untuk mengatasi masalah ini metode pengajaran bahasa daerah perlu dikembangkan, pengembangan ini bias lewat penerapan metode CTL, dan immersion, yaitu menyatukan diri dengan matapelajaran mereka.

4. Penggunaan multimedia juga berperan penting. Selain untuk menumbuhkan semangat belajar pada siswa, penggunaan media yang bervariasi dapat membantu dan melayani siswa dengan gaya belajar yang berbeda, Audio, Visual dan Konestetik.

5. Berbagai macam permainan dapat dimainkan dalam proses belajar siswa. Permainan ini jika di dukung oleh multimedia akan menghasilkan hasil yang luar biasa.


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional RI, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP): Bahan Sosialaisasi. htpp//:www.depdiknas.id.org.

Rosidi, Ajip (editor). 1999. Bahasa Nusantara suatu Pemetaan Awal. Jakarta:

Dunia Pustaka Jaya

Sunoto, L. Daya Tarik Pelajaran Bahasa Jawa. http//groups.yahoo.com

Wibawa, Sutrisna. 2007. Implementasi Pembelajaran Bahasa Daerah Sebagai Muatan Lokal.
Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah
dalam Kerangka Budaya. Yogyakarta, 8 September 2007

www. didikwirasamodra.wordpress.com. Multimedia Dalam Pembelajaran. Diakses Jumat, 12
September 2008

www. elbud.or.id.htm. Memperbicangkan Nasib Bahasa Madura. Diakses Kamis, 11 September 2008

www. mustolihbrs.blogspot.com. Multi Media dalam Pembelajaran. Diakses Jumat, 12 September 2008

www.pos kupang.com. Kurikulum Mulok Masih Terseok-seok. Diakses Kamis, 18 September 2008

www. tempointeractive.com. 10 Bahasa Daerah Punah, 700 Lainnya Terancam
Diakses Jumat, 12 September 2008

[1] Penulis pernah menjadi juri Story Telling dalam Festival Kacong-Jebbing Bangkalan

[2] Bahasa Madura memiliki tiga tingkatan, Enja’-Iyah (kasar), Enggi-Enten (menengah), Enggi-

Bunten (halus)








Minggu, 23 November 2008

QUANTUM TEACHING SISTEM TANDUR DAN PENERAPANNYA DALAM PENGAJARAN BAHASA INGGRIS

Abstract:
Quantum Teaching is one of educational methods that has been implemented lately. It gives many benefits to teacher as one of the educational subject. On the other hands, our Minestry of National Education also implemented a new curriculum called Literacy-Based-Curriculum. This curriculum tries to solve our educational problems. What will happen if these two methods of teaching are combined to be the ultimate solution to end our educational problems? The combination clearly provides many benefits for us

Key Words: quantum teaching, TANDUR, implementation, literacy-based-curricuilum

Topik ini terinspirasi oleh sebuah pengalaman mengajar penulis di salah satu SMA swasta favorit di Surabaya. Setelah sekian lama berinteraksi dengan sistem sekolah dan kurikulum pengajaran bahasa Inggris di sekolah tersebut, penulis menjumpai sebuah kenyataan menarik ketika penulis mengajar di dalam kelas, bahwa KB (Kurikulum Berbasis Kompetensi) apabila dipadukan dengan Pengajaran Quantum sistem TANDUR, dapat membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan mampu memotivasi semangat belajar siswa.

Karena itu, topik ini bertujuan untuk mendiskusikan: a) Sejauh mana Pengajaran Quantum sistem TANDUR bermanfaat dalam penerapan Kurukulum Berbasis Kompetensi Pelajaran Bahasa Inggris? b) Contoh-contoh pengajaran Quantum sistem tandur di dalam kelas yang mampu menarik minat siswa untuk lebih giat belajar.

Dalam dua fokus di atas itulah tulisan ini mencoba memberikan ulasan, dengan terlebih dahulu meninjau beberapa dasar teoritis. Untuk mengulas topik tersebut, penulis membagi ulasan sebagai berikut: Quantum Teaching, Metode TANDUR, Kurikulum Berbasis Kompetensi Bahasa Inggris, Pengajaran Quantum sistem TANDUR dan Penerapannya dalam KBK, Temuan-temuan menarik, dan Penutup.

Quantum Teaching
Quantum Teaching muncul dari sebuah upaya Dr Georgi Lozanov, pendidik asal Bulgaria, yang bereksperimen dengan suggestology. Prinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar. Pada perkembangan selanjutnya, Bobbi de Porter (penulis buku best seller Quantum Learning dan Quantum Teaching), murid Lozanov, dan Mike Hernacki, mantan guru dan seorang penulis, mengembangkan konsep Lozanov menjadi Quantum Learning. Metode belajar ini diadopsi dari beberapa teori. Antara lain sugesti, teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik) dan pendidikan holistik. (Ridho, 2005)

Quantum Teaching dimulai di SuperCamp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan Learning Forum, yaitu sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan akademis dan ketrampilan pribadi (DePorter,1992)

Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitas SuperCamp, berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lazanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro-Linguistics Programming (Grinder dan Bandler), Experimental Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), dan Elements of Effective Instruction (Hunter). Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan, dan kompatibel dengan otak, yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi. (DePorter dkk, 2001)

Quantum Teaching memberikan kritik terhadap cara mengajar yang selama ini dilakukan secara ‘turun temurun’. Persamaan Quantum Teaching ini diibaratkan mengikuti konsep Fisika Quantum yaitu:
E = mc2
E = energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar, dan semangat)
m= massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, dan fisik)
c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas) (Ridho, 2005)

Metode TANDUR
Metode TANDUR adalah salah satu metode yang dapat diterapkan dalam Quantum Teching. Aplikasi dari TANDUR sangat jelas manfaatnya ketika diterapkan dalam kelas yang memiliki siswa dengan tingkat antusiasme belajar yang rendah. TANDUR ditujukan untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar sehingga proses penyampaian materi dapat berjalan dengan baik. TANDUR merupakan singkatan dari enam fase pengajaran yang meliputi Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan

T (Tumbuhkan). Tumbuhkan dalam hal ini mengacu pada fase menumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BAgiKu” (AMBAK), dan manfaatnya dalam kehidupan mereka (DePorter dkk, 2001) dengan proses yang semenarik mungkin.

Tumbuhkan di sini berperan sangat penting karena pada fase inilah siswa diajak pergi dari dunianya menuju dunia kita sebagai pengajar, dan kita antarkan dunia kita ke dalam dunia mereka (DePorter dkk, 2001), tanpa ada rasa keterpaksaan. Kita sebagai pengajar pada fase ini dituntut untuk bisa menyiapkan sebuah kejadian menarik yang dapat mengundang minat siswa untuk membuka mata mereka dan menyerahkan segenap perhatian mereka kepada kita. Seperti contoh yang pernah penulis lakukan di kelas ketika penulis memulai pelajaran.

Pada saat itu penulis bermaksud menerangkan tentang materi Past Tense. Penulis datang ke dalam kelas dengan membawa dua kardus besar coklat Wafer TOP dan meletakkannya di depan kelas. Pertama kali masuk kelas, situasi kelas masih ramai. Tapi ketika penulis mulai membuka kardus coklat, siswa mulai memberikan respon. Satu orang bertanya tentang isi kardus tersebut. Beberapa siswa yang lain meminta ijin agar diperbolehkan memiliki isinya. Tidak masalah mereka memberikan respon yang berbeda, asalkan respon mereka tertuju pada kita, itu sudah lebih dari dari cukup. Perhatian inilah yang menjadi target dari fase Tumbuhkan. Ketika perhatian sudah berhasil direbut, maka itulah letak kemenangan kita. Karena ketika hal ini terjadi, penyampaian materi akan sangat mudah dilakukan.

A (Alami) dimaksudkan untuk memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa. Pengalaman belajar ini haruslah dapat mencakup segenap gaya belajar siswa, baik itu yang memiliki gaya belajar Auditory, Visual ataupun Kinestetik. Ketika siswa diberi pengalaman belajar secara langsung, mereka akan terus dapat mengingatnya karena sistem belajar seperti inilah yang dapat masuk ke dalam sistem Long Term Memori mereka. Ketika penulis menerapkan fase ini ke dalam kelas, respon siswa sangat bagus.

Setelah fase Tumbuhkan berjalan dengan baik, langkah selanjutnya adalah memulai fase Alami. Penulis melakukannya dengan menceritakan sebuah kisah menarik yang pernah penulis alami. Saat itu bahasan materi adalah Simple Past, oleh karenanya penggunaan Past Tense (Verb II) sangatlah dominan. Selama penulis bercerita, verb past yang penulis gunakan, penulis tuliskan di papan tulis. Selesai bercerita, siswa diminta memberi komentar terhadap cerita tadi. Tapi yang jelas, bukan pada komentar ini kita menilai respon siswa, melainkan sejauh mana mereka paham dan tetap menaruh perhatian pada kita. Setelah respon di berikan, kita beranjak pada catatan kita di papan tulis. Catatan itulah yang akan mengarahkan jalannya pengajaran selanjutnya.

N (Namai) disini dimaksudkan untuk menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus, dan strategi sebagai penanda (DePorter dkk, 2001). Kadang, ketika siswa hanya diberikan penjelasan materi secara intengible tanpa dijelaskan dan diterangkan materi apa yang mereka dapat, mereka menjadi bingung dan merasa tidak belajar. Bagian inilah yang digunakan untuk menghindari kejadian tersebut. Catatan-catatan tentang ragam verb dua di papan tulis dapat digunakan untuk melaksanakan fase Namai. Beri mereka pengertian tentang verb-verb tadi. Beri mereka pengertian tentang penggunaannya, beri mereka contoh yang banyak tentang aplikasinya, dan beri mereka rumus agar mereka jelas bahwa saat itu mereka belajar tentang materi Past Tense

D (Demonstrasikan) adalah menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu (DePorter dkk, 2001). Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan mereka kesempatan untuk mempraktekkan apa yang telah mereka terima.

Fase ini memiliki peranan yang dominan dan penting dalam pembelajaran. Semakin banyak kita memberikan kesempatan melakukan (demonstrasi) kepada siswa, semakin paham pula mereka terhadap materi yang kita berikan. Membuat kalimat dengan menggunakan past tense, atau membuat recount (cerita tentang pengalaman pribadi) tentang diri mereka dapat dijadikan cara dalam melaksanakan fase ini.

U (Ulangi) dilakukan dengan dengan cara me-review secara umum terhadap proses belajar di kelas. Tidak ada salahnya mengulang lagi secara umum terhadap apa yang telah kita terangkan karena, bisa jadi, ada beberapa hal dari materi kita yang tidak atau masih belum dipahami oleh siswa. Setelah semua siswa mendapatkan giliran untuk mempraktekkan materi, tiba gilirannya bagi kita untuk menutup pelajaran. Sebelum menutup pelajaran, yakinkanlah diri kita bahwa semua siswa bisa dan paham terhadap materi tersebut, yaitu dengan melakukan review materi. Kita bisa melakukannya dengan memunculkan pertanyaan seperti ini: “Ok, students, what have we got so far? atau “What do you get from this lesson? atau “Still remember what have we studied just now?”

R (Rayakan) adalah pengakuan terhadap hasil kerja siswa di kelas dalam hal perolehan ketrampilan dan ilmu pengetahuan. Rayakan dapat dilakukan dalam bentuk pujian, memberikan hadiah atau tepuk tangan. Pujian sangat penting keberadaannya dalam proses belajar mengajar. Dr. Sylvia Rimm menyebutkan bahwa pujian merupakan komunikator nilai-nilai orang dewasa efektif dan menjadi alat yang amat penting bagi orang tua (guru) untuk membimbing anak-anak (siswa). Kesenangan orang tua yang dinyatakan merupakan motivasi awal yang paling kuat (1998:6).

Tapi meskipun demikian, terlalu banyak pujian juga tidak baik bagi mereka. Sebab ketika hal itu terjadi, mereka akan belajar untuk selalu tergantung dan mengharapkan perundingan untuk segala kegiatan mereka (Rimm, 1998). Pujian dapat pula dilakukan kepada siswa meskipun mereka melakukan kegagalan. Pujian ini dapat diartikan sebagai sebuah penguatan kepada siswa untuk mempertahankan mental mereka agar tidak jatuh (down). Hal yang harus kita ingat sebagai seorang pengajar dan pendidik adalah bahwa kegagalan itu bukanlah suatu aib atau hal yang memalukan.

Sejarah menunjukkan bahwa bahkan orang yang paling sukses dan paling dikagumipun ternyata pernah melakukan kesalahan fatal yang kelihatannya tidak bisa diperbaiki. Semua orang sadar bahwa berbuat salah sesungguhnya sangatlah manusiawi (Stein, 2002).

Kurikulum Berbasis Kompetensi Pengajaran Bahasa Inggris
Kurikulum pelajaran bahasa Inggris, disebut Kurikulum Berbasis Literasi (disingkat KBL), menggantikan kurikulum sebelumnya yang dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). KBL diharapkan mampu mendongkrak tingkat literasi anak bangsa.

Literasi adalah budaya membaca dan menulis, yang berbanding terbalik dengan budaya orasi yakni budaya mendengar dan berbicara. Orang berpendidikan disebut literat karena mampu melakukan keduanya. Jadi, seorang yang banyak membaca tapi tidak menulis dapat dikatakan setengah berpendidikan.

Kompetensi utama yang muncul dalam kurikulum ini adalah kompetensi berwacana (discourse competence), yakni kemampuan berkomunikasi lisan (spoken) maupun tulis (written) dalam berbagai peristiwa interaksi/text. Untuk memuluskan maksud tersebut diperlukan kompetensi pendukung, yaitu kompetensi tindak bahasa, kompetensi sosio-kutural, kompetensi linguistic, kompetensi strategi, dan kompetensi piranti pembentuk wacana. (Alwasilah, 2005). Dalam pelaksanaannya, rangkaian dua sistem komunikasi tersebut kemudian disinergiskan ke dalam dua tahapan siklus yaitu dari siklus lisan (oral) menuju siklus tulisan (written)

Dalam Kurikulum ini, siswa dikenalkan dan dijelaskan secara detail tentang berbagai macam genre text, seperti recount, spoof, anecdote, report, narrative, procedure, news item, descriptive, argumentative (kita menyebut teks-teks tadi sebagai teks besar), texts kecil seperti letter, post cards, announcement, advertisement dan text bebas seperti wacana transaksional personal/interpersonal ringan.

Proses pembelajaran di kelas
Seperti disebut di atas, KBL merupakan rangkaian dari lisan ke tulisan. Dalam KBL digunakan istilah siklus lisan (di dalamnya terdapat dua skill yaitu listening dan speaking) dan siklus tulisan (di dalamnya terdapat dua skill yaitu reading dan writing). Walaupun bahasa Inggrisnya umumnya berorientasi pada komunikasi lisan, siswa SMA juga diperkenalkan kepada komunikasi tulis secara bertahap, khususnya bahasa tulis yang di dasarkan pada teks.

Dalam pembelajaran di kelas, ada empat tahap (yang selanjutnya akan kita sebut dengan steps) yang harus ditempuh. Empat tahap itu adalah: Building Knowledge of the Field, Modelling of the Text, Joint Construction dan Individual/Independent Construction. Idealnya, empat tahap tersebut dilaksanakan secara berkesinambungan dalam tiap-tiap siklus. Tetapi kadang untuk menghemat waktu, tahap Building Knowledge of the Field diabaikan dalam siklus tulis dengan pertimbangan tahap ini telah jelas diterangkan sebelumnya secara jelas dalam siklus lisan

Pertama, Building Knowledge of the Field (BKF). Tahap ini dimaksudkan untuk menjajaki dan mengenalkan topik yang akan dibahas. Bila teks yang akan diajarkan adalah procedure, maka guru dan siswa terlibat dalam percakapan yang berhubungan dengan teks tersebut. Pada tahap ini siswa dilatih keterampilan menyimak dan berbicara. Siswa diajak untuk mencari segala peristiwa di kehidupan sehari hari yang berhubungan dengan prosedur, tahapan, dan skema untuk melakukan sesuatu. Setelah peristiwa tersebut teridentifikasi, guru memberikan penjelasan kapan teks procedure ini muncul.

Tahap kedua adalah Modelling of the Text (MT). Tahap ini adalah tahap pemajangan (exposure) terhadap teks. Ketika kelas berada dalam siklus lisan (listening dan speaking), maka guru memberikan pemodelan kepada siswa. Misal, cara membuat roti bakar. Guru memperagakan secara visual, auditori dan kinestetik bagaimana caranya membuat roti tersebut dengan mempraktekkannya secara langsung.

Pertama, guru menunjukkan bahan-bahan dan menyebutkannya dalam bahasa Inggris, kemudian mempersiapkannya di depan dengan menerangkannya dalam bahasa Inggris. Setelah itu dilanjutkan dengan proses pembuatan yang kesemuanya disampaikan dalam bahasa Inggris. Setelah mendengar secara langsung dari guru, peran kerja kemudian beralih dari guru ke siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan dan melatih kemampuan speaking mereka.

Ada dua pilihan yang bisa diberikan guru kepada siswa. Pilihan pertama, siswa diminta mengulang secara keseluruhan prosedur yang telah dijelaskan, dan pilihan kedua, siswa diminta menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan prosedur yang telah diterangkan.
Ketika kelas menginjak pada tahapan siklus tulis, maka siswa dikenalkan dengan bahasa tulis teks tersebut melalui metode membaca (exposure information by reading). Siswa diberikan contoh-contoh procedure dan guru menjelaskan beberapa hal kepada mereka terutama generic structure dari teks tersebut. Generic structure text terbagi menjadi dua bagian besar, yang pertama adalah structure of the text, dan yang kedua adalah language feature. Struktur text procedure adalah list of materials (bahan-bahan/materi), sequence of events ( serangkaian kejadian) dan closing (penutup). Language feature dari procedure adalah imperative, adverbs, time sequences, dan conjunction. Ketika mereka paham terhadap generic structure dari teks, langkah selanjutnya adalah membiarkan mereka bereksplorasi dalam bentuk tulisan.

Joint Construction of Text (JCT). Tahap ini didesain untuk menciptakan kolaborasi antarsiswa. Dari kolaborasi itu diharapkan muncul teks sebagai hasil kerja sama yang manis dalam kelompok. Mereka diasumsikan mampu berbuat itu setelah melewati dua tahap sebelumnya di atas. Ketika mereka memasuki siklus oral, maka kerjasama yang mereka lakukan adalah mendiskusikan bagaimana prosedur membuat sesuatu secara lisan dalam kelompok. Kemudian pada siklus tulis, mereka melakukan kerja sama dalam kelompok dengan kegiatan yang berbeda, yaitu membuat prosedur terhadap suatu kegiatan. Perlu diingat di sini, bahwa bahasa tulis dan bahasa lisan dalam teks procedure memiliki beberapa perbedaan
Individual Construction of Text (ICT). Ini adalah tahap tertinggi dalam penguasaan bahasa, yakni kemampuan secara mandiri memproduksi teks, Contoh nya siswa diminta untuk menerangkan secara lisan bagaimana proses meng-install program ke dalam komputer (siklus lisan).

Selanjutnya pada tahap ini siswa juga diharapkan mampu memproduksi teks tersebut (bagaimana cara meng-install program ke komputer) ke dalam bentuk teks tulis. Pada tahap ini diharapkan terjadi text sharing dengan memperlihatkan teks itu dan membahasnya dalam kelas. Ini diniati sebagai bagian dari penanaman sikap positif, saling menghargai karya tulis sejawat. (Alwasilah, 2005).

Dalam pelaksanaan assessment/ penilaian, guru diberikan kebebasan penuh kapan assessment tersebut dilakukan. Asalkan dapat mencakup empat skill yaitu listening, speaking, reading dan writing, guru bebas berkreasi sesuai dengan kondisi kelas. Namun meskipun demikian, idealnya, assessment dilaksanakan sesuai dengan siklusnya. Assessment listening dan speaking dilaksanakan ketika siklus lisan berjalan. Reading serta writing dilaksanakan pada siklus tulis. Assessment listening biasanya diambil pada tahap BKF dan MT, dan Speaking dilaksanakan pada tahap JCT atau ICT. Demikian pula pada assessment reading dan writing Reading dilakukan pada BKF atau Modelling, dan Writing pada JCT dan ICT.

Pengajaran Quantum sistem TANDUR dan Penerapannya dalam KBK
Berbicara tentang KBL, maka kita berbicara tentang sebuah kurikulum dengan berbagai macam kegiatan pembelajaran di dalamnya. Termasuk di dalamnya dua siklus dan empat step yang telah diterangkan di atas. Seorang pengajar tidak mungkin dapat menerapkan semua hal di atas hanya dalam satu pertemuan. Butuh beberapa pertemuan untuk menyelesaikan secara keseluruhan dari siklus tulis ke lisan. Belum lagi ketika sebuah proses assessment individu yang panjang karena jumlah siswa yang banyak. Secara matematis kita dapat menghitung jumlah pertemuan minimum yang kita lakukan untuk menyelesaikan satu text dengan dua siklus. Kita asumsikan bahwa satu step dalam satu siklus membutuhkan satu pertemuan, maka untuk menyelesaikan satu siklus kita membutuhkan empat kali pertemuan. Untuk meyelesaikan satu text, dengan dua siklus maka kita membutuhkan delapan pertemuan.

Andaikata kita kreatif dan disiplin terhadap waktu, BKF dan MT dapat diselesaikan dalam satu pertemuan. JCT dapat kita tekan waktunya hingga hanya butuh setengah pertemuan, maka sisa waktu yang ada dapat kita lanjutkan menuju ICT. Apabila jumlah siswa yang kita miliki banyak, maka akan ada tambahan waktu khusus untuk mengassessment mereka semua. Total waktu yang kita gunakan adalah satu pertemuan untuk BKF dan MT, ditambah dua pertemuan lagi untuk JCT dan ICT. Total keseluruhan untuk dua siklus adalah enam pertemuan.

Waktu pertemuan yang panjang inilah yang nantinya dapat kita kolaborasikan dengan Quantum Teaching Metode TANDUR.
Kolaborasi KBL dan Quantum Teaching

Quantum Teaching metode TANDUR secara sempurna dapat dilakukan dalam satu pertemuan. KBL tidak mungkin dilaksanakan seperti Quantum Teaching. Kolaborasi ini dapat kita lakukan ketika proses siklus dan steps berjalan. Step semisal BKF dapat dilaksanakan dengan menggunakan TANDUR, demikian pula Steps yang lainnya.

Sebuah pengalamam menarik yang mungkin penulis bisa suguhkan untuk memberikan ilustrasi kolaborasi ini adalah ketika penulis bermaksud untuk menerangkan materi Present Perfect sebagai bagian untuk BKF text narrative. Ketika penulis menerapkan metode klasikal dengan langsung memberikan dan menanyakan rumus dari Present Perfect, banyak di antara siswa enggan untuk berpartisipasi. Begitu juga ketika penulis langsung menyuruh siswa untuk membuat kalimat yang mengandung Present Perfect, banyak diantara siswa yang saling menuding kanan dan kirinya. Jelas ini sangat tidak bagus untuk memulai sebuah proses pembelajaran panjang.

Akhirnya, untuk meredam kejadian yang tidak kondusif ini, penulis mencoba menyajikan materi ini dengan bentuk berbeda. Penulis memulainya dengan bercerita. Inilah yang dilakukan penulis:

“Ok students, today I won’t teach you anything. But, to replace my lesson I am going to tell you a story. A short story of my life. Please listen up! Just guest what I am going to tell you. Any idea....? Hendra, can you guest what I am going to say? (menunjuk satu siswa dan dia memberikan jawaban). Emm, a little bit close to my idea Hendra, but not quite correct, thanks by the way.”

“Ok students, actually I am going to tell you about my strange hobby. Yes Ical, what have I said? (penulis menunjuk seseorang lagi untuk memastikan ia mendengarkan apa tidak). Yes it is all about my hobby. I believe that all of you, have a hobby, but I am not quite sure that you have a hobby like me. Ok....my hobby is traveling. Traveling is not a strange hobby isn’t it, but what about if I do it by doing a silly thing? Can you guest what I always do when traveling?”

“Yes, I always brougth my old suitcase to every places I visited. I loved my suitcase, and that’s why I always brought it. I also liked to buy a sticker that was sold as a souvenir in that places. Although I liked buying sticker, I never bought a sticker that had no date in it. That sticker was aimed to tell to everyone that I had been in that place in a certain time. No visit without suitcase, and no happy without a sticker.”

“When I came to Bali, I bought a sticker written BALI FAIR 2001. When I came to Lombok I also bought a small pretty sticker written LOMBOK THE PARADISE ISLAND 1996. Those stickers were stick in my suitcase to remind me that I was a true traveler. And everyone would know me that I liked traveling. I liked showing off my stories.”

“Now if I have a sticker like this (penulis menempelkan stiker di papan tulis) written there JAKARTA INTERNATIONAL SEMINAR 2002. (penulis kemudian menanyakan pada siswa pertanyaan-pertanyaan dan memberi penguatan kepada mereka untuk menjawab), what can you tell from that? Any body knows what I did? Yes Aldy...Can you tell me what I did...what? Come on, I believe you can make it.

Siswa memberikan ide, “Sir I know that you went to Jakarta in 2002” (Bingo! Satu poin telah didapat kemudian penulis memberi siswa tersebut pujian)

“Excellent!! Yeah… this sticker tells us that I was in Jakarta in 2002. What about this sticker (penulis menunjukkan stiker lain, tertulis di dalamnya: MADURA BULL RACE ISLAND 2003), “Anybody knows what that means? Lukman do you want to try? (penulis menunjuk pada satu siswa dipojok belakang sebelah kiri)”

Lukman memberikan jawaban yang tidak pasti, “Hmm...may be you gone to watch Bull Race in Madura.

Penulis: “Not gone Lukman, try to use Verb two. Ok now try once again Lukman...(penulis memberikan dia kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya sendiri).

Lukman: “Sir,I mean you went to Madura to watch Bull race!”

Penulis: “Great Lukman!”

Banyak stiker kita tunjukkan kepada siswa dan yakinkan mereka untuk menjawab dengan tepat. Kemudian jelaskan kepada mereka mengapa mereka harus menggunakan bentuk Verb dua.

Ketika mereka telah mulai panas, tunjukkan satu stiker yang beda dengan sebelumnya. Di situ tertulis (ACEH SERAMBI MEKKAH, tanpa ada tahun di dalamnya). Tanyakan mereka seperti apa yang telah kita lakukan.

“Now, if I have a sticker like this, what can you infer then? What Novan? I went to Aceh? Emh... try once again Novan, you missed something. There was no date in there. Ok Naufal, what did you say? I had gone to Aceh?A little bit close Naufal.

Widad: “Sir, You have been to Aceh.”

Penulis: “Yess Widad, that’s CORRECT! (sembari menunjuk siswa yang menjawab benar dan memberinya acungan jempol) Students, this sticker has no date in there, so we have to use different verb then. So you have to answer, I have been in Aceh, or I have gone to Aceh. Very good students! Now we are going to learn Present Perfect.

Dari peristiwa di atas, kita bisa mengetahui jalannya sebuah proses belajar mengajar yang muncul dan bercermin dari ide-ide brillian siswa sendiri. Pada proses tersebut peran guru hanyalah sebagai fasilitator dalam mengantarkan siswa memahami sesuatu (materi) dan inilah yang disebut Student Centre.

Ketika sampai pada kondisi ini, mulailah kita masuk pada TANDUR. Jelaskan kepada mereka tentang pentingnya mempelajari Tenses ini sebagai bagian dari Tumbuhkan. Setelah Tumbuhkan selesai, berikan mereka Pengalaman belajar dengan kita atau siswa atau hal-hal lain sebagai modelnya. Pengalaman ini adalah bagian dari fase Alami pada TANDUR. Fase Alami telah selesai, lanjutkanlah dengan fase Namai, fase ketiga dari TANDUR. Beri mereka rumus, beri mereka contoh-contoh yang banyak yang berhubungan dengan Present Perfect.

Setelah semua itu selesai, kita langkahkan kaki kita pada fase Demonstrasikan, buat siswa menjawab beberapa pertanyaan yang kita ajukan dan buat semua siswa membuat kalimat yang di dalamnya memuat materi tadi. Ingatlah bahwa ini adalah siklus lisan, jadi minimkanlah penggunaan tulisan. Beri kesempatan kepada seluruh siswa untuk berpartisipasi hingga kita dapat meyakinkan diri kita bahwa mereka paham benar materi tersebut.

Langkah selanjutnya adalah fase Ulangi. Di akhir waktu pelajaran, ulangi lagi materi tadi secara umum dan tidak ada salahnya memberi pertanyaan kepada satu siswa secara acak untuk memastikan hal tersebut. Kemudian beri mereka kuis, satu soal saja sudah cukup. Undang mereka untuk menjawab pertanyaan. Bagi mereka yang menjawab, beri mereka hadiah atau sekedar tepuk tangan dari teman-teman dikelas. Tidak ada salahnya merayakan hasil kerja keras mereka dengan tepuk tangan bersama.

Ketika memasuki step MT, lakukanlah hal yang sama seperti yang telah kita lakukan pada step BKF. Ingatlah bahwa pada step ini kita telah masuk ke dalam teks yang sebenarnya. Mulailah dengan Tumbuhkan dengan membuat kejadian-kejadian menarik yang berhubungan dengan Narraritve, semisal kita menunjukkan gambar Buaya yang berada di bawah kaki seekor kera (untuk melangkah pada cerita rakyat buaya dan beruk) atau putri cantik yang bertelanjang kaki (Cinderella) dan lain sebagainya. Semakin kita kreatif dalam membuat pengalaman belajar pada siswa, semakin menarik pula pelajaran yang kita berikan.

Temuan-temuan menarik
Penulis ketika melaksanakan penelitian ini sedang mengajar di kelas X kelompok putra dan putri Average (Sekolah membagi siswa yang berjumlah 58 siswa ke dalam enam kelas berdasarkan hasil tes penempatan yang dilakukan di awal semester 2. Hasilnya adalah kelas Putra High dengan siswa berjumlah 7 orang, kelas Putra Average dengan siswa berjumlah 11 orang, kelas Putra Low dengan siswa berjumlah 8 orang, kelas Putri High dengan siswa berjumlah 10 orang, kelas Putri Average berjumlah 11 orang, dan Putri Low berjumlah 8 orang.
Ketika penulis melaksanakan pengamatan selama satu semester dan melihat beberapa aspek termasuk didalamnya hasil nilai UTS siswa, penulis menemukan hal yang menarik, yaitu, dari 22 siswa yang penulis ajar, mereka mendapatkan kemajuan sebagai berikut:
1. 3 siswa mengalami peningkatan yang signifikan yang dilihat dari hasil UTS mereka yang bagus
(mereka tidak ikut remedial teaching, padahal semester sebelumnya ketiga murid tersebut
mengikuti remidi)
2. 1 siswa mulai terbuka dan berpastisipasi aktif dalam kelas sehingga mendapatkan nilai afektif
90 dengan Kriteria A (semester sebelumnya, siswi ini tertutup dan pasif dalam kelas)
3. 1 siswa berhasil masuk 10 besar nilai raport sisipan (semester sebelumnya, siswa ini ada di
kelas High, kemudian dipindah ke kelas Average karena nilai listeningnya yang kurang
memuaskan)
4. 60 persen dari jumlah siswa memiliki kenaikan prestasi 10 persen yang dilihat dari hasil nilai
raport sisipan mereka.
5. 10 siswa putra mendapat nilai afektif A dan 1 orang B karena kerja keras dan keaktifan
mereka di kelas, dan seluruh siswa puti mendapat nilai afektif A (semester sebelumnya ada 4
orang mendapat nilai afektif C dan 1 orang D)

Penutup
Dari apa yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, terlihat jelas bahwa KBL sebagian bagian dari kurikulum pendidikan di Indonesia apabila di kolaborasikan dengan Quantum Teaching dapat menghasilkan output yang memuaskan. Hal ini terlihat dari penelitian yang dilakukan di kelas oleh penulis. Namun meskipun demikian, untuk mengkolaborasikan dua sistem pengajaran tersebut kita memerlukan banyak sekali kreatifitas untuk mendukung pengkolaborasian keduanya di dalam kelas, dan hal ini tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya antusiasme dari guru sebagai pengajar. Guru adalah bukan saja orang yang memberikan pengajaran di kelas, tetapi juga dituntut untuk bertindak sebagai planner, manager, motivator, instructional expert, leader, counselor dan model (woodfolk, 1987). Nah, sanggupkah kita melakukan itu semua?

Iqbal Nurul Azhar

DAFTAR PUSTAKA


Alwasilah, A. Chaedar. 2006. Kurikulum Berbasis Literasi. www.pikiran-rakyat.com.1 mei 2006

DePorter, Bobbi. 1992. Quantum Learning: Unleashing the Genius in You. New York: Dell Publishing

DePorter, Bobbi dkk. 2002. Quantum Teaching: Mempraktekkan Quantum Learning di ruang-ruang kelas. Bandung: Kaifa

Ridho, Rasyid. 2006. Cerahkan Dunia Pendidikan Dengan Metode Quantum Teaching. www.ekifamily.bloghi.com. 25 mei 2006

Rimm, Sylvia, Dr. 1998. Smart Parenting, Mendidik anak dengan bijak. Jakarta: PT Grasindo

Stein & Book, 2002. Ledakan EQ. Bandung: Kaifa

Setiawan, Slamet. 2001. First Language Maintenance: Evidence of Indonesian in Auckland that is unlikely to succeed. Jurnal Bahasa Verba, Vol. 2 No. 37, 173-181

Woolfolk, A.E. 1984. Educational Psychology. New Jersey: Prentice Hall Inc, Englewood Cliffs

Jumat, 07 November 2008

TANGGUNGJAWAB PENDIDIK MENGEMBANGKAN SOFTSKILL

Mahasiswa sebagai the agent of change seharusnya mampu untuk memberikan kontribusi besar bagi perubahan di lingkungan sekitarnya dan masyarakat dalam arti yang luas. Ternyata sistem pendidikan di tanah air belumlah mampu mencetak mahasiswa sesuai dengan harapan tersebut. Sistem pendidikan cenderung menelurkan mahasiswa yang secara intelektual tidak diragukan lagi kepintarannya, tapi bagaimana dengan secara sosial atau kemampuan beradaptasinya?

Studi menunjukkan bahwa di dunia kerja, hard skill hanya berperan sebesar 20% sedangkan sisanya ditentukan oleh soft skill yang dimiliki oleh personalnya. Hard skill adalah kompetensi akademik sedangkan soft skill adalah kompetensi non akademik. Yang termasuk soft skill adalah ketrampilan dalam berpikir analogis, berpikir kritis, bekerja secara tim, bekerja mandiri, berkomunikasi, dll. Hard skill bisa membawa seseorang pada posisi atau jabatan yang diinginkannya namun kemampuan soft skill-lah yang membawanya untuk bisa bertahan. Soft skill perlu ditumbuhkan dan dikembangkan dengan tujuan agar seseorang lebih berhasil, lebih berfungsi sebagai anggota keluarga, komunitas, dan dunia kerja. Pengembangan soft skill bisa dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar ataupun kegiatan extra kurikuler.

Penerapan soft skill di ruang-ruang kelas adalah usaha dhohir (nyata). Bagaimana dengan usaha batin, yaitu doa? Sudahkah kita melakukannya? Bukankah usaha nyata tanpa diiringi dengan doa terasa tak sempurna? Begitu juga dengan doa saja tanpa adanya usaha nyata juga percuma. Bagaikan sayur tanpa garam, terasa hambar.

Sedari awal hendaknya kita melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas karena percuma saja gerak kita bila Tuhan tidak meridhoinya. Kekuatan dan kemampuan manusia terbatas, sangatlah terbatas. Dimana tidak semua hal bisa dijangkau melalui sekedar usaha saja. Satu cara yang menunjukkan usaha melibatkan Tuhan dari awal perjalanan adalah melalui berdoa. Karena berdoa menunjukkan ketergantungan kita kepada Tuhan dan penyerahan total setelah melakukan upaya sebatas kemampuan kita. Bukankah kekuatan doa membawa pengaruh besar bagi kehidupan kita?

Berapa banyak dari kita, para pendidik, yang mendoakan mahasiswa? Menyengajakan diri usai ibadah kita, dengan tulus dan ikhlas mengangkat tangan, mengucap doa untuk kebaikan bagi mereka. Minimal berdoa agar mereka tetap berada pada jalan yang diridhoi oleh Tuhan. Mungkin bisa dihitung dengan jari di lingkungan kerja kita masing-masing pendidik yang benar-benar mendoakan anak didiknya. Betapa egoisnya bila kita sibuk mendoakan keluarga, anak-anak, dan orang-orang terdekat kita padahal kita punya “anak-anak” di tempat lain yang mungkin terlupakan tidak kita ikut sertakan dalam doa-doa yang kita panjatkan tiap harinya.

Mahasiswa adalah anak-anak kita juga. Yang membedakannya hanyalah wilayahnya saja. Mahasiswa adalah anak-anak kita di kampus, sedangkan di rumah ya adalah anak-anak kita yang berada di rumah. Yang menyambut kita ketika pulang kerja. Yang ribut menanyakan oleh-oleh apa yang kita bawa sehabis pulang bepergian, yang bila kita memandang mata jernihnya ada kedamaian di sana. Pada hakikatnya adalah sama. Baik mahasiswa maupun anak-anak di rumah, mereka adalah tumpuan harapan kita sebagai generasi penerus dan generasi pelurus (meminjam istilahnya Ibu Rosfia Rasyid Izada) bangsa ini. Setiap orang tua pastilah menginginkan anak-anaknya kelak tumbuh menjadi anak-anak yang mempunyai segudang kebaikan, ilmu dan akhlaq.

Kita adalah pendidik mereka yang mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan mereka manusia yang mempunyai kompetensi yang membawa manfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga, komunitas, dan dunia kerja. Dengan kata lain kita jadikan mereka KAKAP BESAR, yaitu mahasiswa yang mampu dan mau kreatif, analisis kritis, komunikatif, ambil keputusan, pecahkan masalah, belajar terus, sikap positif, aktif-proaktif, dan rasional. Dan pembelajaran tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial melainkan menyeluruh. Dalam arti, sebenarnya, proses pembelajaran itu terus berlangsung walaupun setelah mereka lulus. Oleh karena itu, setelah mereka lulus pun kita masih punya tanggung jawab terhadap anak didik kita. Nah, disinilah doa itu berperan.

Setelah mereka lulus kita tidak bisa selalu memantau keberadaan dan bagaimana mereka. Tapi ada yang bisa melakukannya, yaitu Tuhan. Tuhanlah—karena doa kita—yang akan menuntun mereka ke jalan kebaikanNya. Bahwa ada hidden guidance yang mengatur segalanya. Tangan-tangan Tuhanlah yang akan membimbing mereka dan menjadikan mereka menjadi manusia yang banyak memberi manfaat bagi umat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang bisa memberi banyak manfaat bagi orang lain? Bukankah kita, dosen dan institusi tempat kita bernaung juga nanti yang akan memetik buahnya?

Menurut saya tidak ada yang namanya mantan guru atau mantan dosen, yang ada adalah mantan mahasiswa. Yang namanya pendidik tetaplah seorang pendidik. Sampai kapanpun nilai-nilai itu akan terus melekat. Implementasi soft skill akan jauh lebih efektif bila disampaikan dalam bentuk ketauladanan. Karena akan lebih mengena di sanubari anak didik kita. Jadi apa yang disampaikan juga dilakukan. Adalah hal yang mustahil bila kita melarang mereka melakukan sesuatu tapi justru kita melakukannya. Bagaimana mungkin kita bisa mengajak orang lain untuk berbuat baik, bila kita sendiri masih jauh dari kebaikan dan malah dekat dengan keburukan? Ketauladanan perlu ada dalam setiap ruang gerak kita.

Ada kalanya kita berpikir bahwa kita sudah bekerja keras dan melakukan yang terbaik guna merubah dan menjadikan mereka mahasiswa yang berkualitas namun hasilnya, yah, bisa dikatakan itu-itu saja. Tidak ada perubahan kebaikan yang terjadi. Apakah kita akan menyerah untuk kemudian menyalahkan pihak lain karena kegagalan kita? Apakah kita akan menyalahkan, semisal institusi sebelum jenjang perguruan tinggi—pabila input mahasiswa kita tidak seperti yang diharapkan. Maka, apa yang terjadi kemudian? Semua pihak akan saling menyalahkan. Apakah persoalan akan selesai begitu saja? Tentu tidak. Disinilah letak ujian bagi para pendidik. Bukankah Tuhan memberi ujian untuk mengetahui siapakah diantara hamba-hambaNya yang paling bertaqwa. Oleh karena itu janganlah kita mudah menyerah dengan mengerdilkan pikiran dan berpikir bahwa kita sudah bekerja keras namun hasilnya nol. Nol itu adalah ukuran kita, manusia, hamba Tuhan tempatnya lalai. Di mata Tuhan tak ada yang sia-sia, bahkan kebaikan sebesar biji sawipun akan mendapat balasannya. Kebaikan yang kita tanamkan pada mereka tidak serta merta bisa dilihat hasilnya saat itu juga. Butuh proses dan waktulah yang akan menjawabnya. Nah, sudahkah kita mendoakan mereka?

E.C.S.H